Kraukk.com

728 x 90

my twitter

Follow g1g1kel1nc1 on Twitter

Minggu, 08 Mei 2011

Sekedar coretan : Menyanyi Di Kamar Mandi.

Sekedar coretan : Menyanyi Di Kamar Mandi.

By Veronica Setiawati

Sebuah buku yang saya miliki, pada satu bagian mengatakan : “Jika saya ingin benar-benar bahagia , maka saya akan menyanyi di kamar mandi.”

Waah, kalau dipikir-pikir benar juga. Saya kembali mengingat kapan terakhir saya menyanyi dikamar mandi. Cukup lama. Apa berarti saya sedang tidak bahagia? Mungkin juga, saya mandi karena sedang dikejar waktu berangkat kerja. Dengan pikiran akan dipotong uang transportnya jika datang terlambat sehingga tidak ada lagu dikamar mandi.

Atau jika terlalu lama dikamar mandi akan digedor pintunya. Sebab yang lain akan masuk ke dalam. Maklum lah kamar mandi hanya satu dan dipakai bergantian, tapi tidak dipungut biaya.

Kemudian , saya teringat sebuah lagu dari Jambrud Band yang menceritakan kejadian saat dia nyanyi dikamar mandi , seorang nenek yang mendengar suaranya mati mendadak. Sehingga harus berurusan dengan polisi. Lagu tersebut memang aneh dan nyeleneh syairnya.

Untungnya saya tidak pernah mengalami hal itu kecuali diteriaki karena suara sumbangnya. Padahal , para penyanyi yang sekarang terkenal mengawali karirnya dengan menyanyi dikamar mandi, ya kan?

Tetapi, tulisan ini bukan maksud menghina mereka yang menyanyi dikamar mandi. Melainkan, mencoba untuk memberikan semacam tips gitu deh, jika ingin benar-benar bahagia dengan bernyanyi. Pasti sangat melegakan jiwa sendainya dapat bernyanyi dengan lepas tanpa beban.

Bersenandung sambil mengerjakan sesuatu karena ada rasa bahagia dari dalam diri kita. Lagipula, “Nyanyian mengusir kesengsaraan” . Itu kata Cervantes.

Kalau merasa tidak ada tempat untuk melepaskan suara dengan menyanyi, kenapa tidak coba berkaraoke saja ?? pilih lagu yang kita hafal kemudian nyanyikan dengan semangat! Anggap saja sedang menyanyi di kamar mandi. He..he..he..

http://veronicasetiawati.blogspot.com/

Sekedar Coretan : Terbius Film Upin Ipin

Sekedar Coretan : Terbius Film Upin Ipin

By Veronica Setiawati

08 Mei 2011

Belakangan ini , saya terbius oleh keluguan bocah kembar yang berlogat melayu. Siapa lagi kalau bukan Upin Ipin. Ide cerita dari film animasi ini sungguh membuat saya tidak lepas pandangan dari cerita mereka. Mereka mampu membuat saya terbius hingga tak berkedip sedikitpun! ( maaf, sedikit lebay! ).

Menjelang hari buku, saya ingin menceritakan kembali cerita salah satu film animasi anak ini. Bagaimana Upin dan Ipin serta kawan-kawan mereka di TK Tandika Mesra, begitu menghargai dan merawat buku bacaan yang mereka pinjam dari perpustakaan keliling.

Cerita mengalir saat salah satu kawan Upin dan Ipin yang pandai berpantun dan yang memiliki jambul dikepalanya mirip dot/empeng bayi, yakni Jarjit Singh, kehilangan buku yang dipinjamnya. Dengan langkah gemetar, ia masuk dalam barisan menuju petugas perpustakaan keliling. Satu persatu teman-temannya mengembalikan buku yang dipinjam. Giliran Janjrit, habislah ia dimarahi oleh petugasnya yang seperti perempuan itu.

“Minggu depan, buku itu harus ada, kalau tidak, kau akan kena denda!” Jerit petugas tersebut dengan kayu rotan ditangannya.

Saat merenung di depan rumah, lewatlah si kembar yang suaranya menggemaskan itu , tak lain ialah Upin Ipin. Mereka menjadi detektif , mencari buku kawannya yang hilang. Tiba-tiba penampilan mereka berubah memakai seragam ala detektif. Dari cerita Jarjit, mereka menemui orang yang terakhir melihat buku yang berjudul “Kisah Raja Pemburu”, tak lain adalah anak orang kaya yang gemuk, karena suka makan. Ia berkaca mata dan juga menjadi ketua kelas mereka , bernama Echsan.

Latar cerita yang tadinya adalah rumah tempat tinggal Echsan berubah menjadi ruangan seperti yang ada dicerita detektif. Echsan dan Fizi, teman yang sangat lekat dengannya, seperti seorang terdakwa ketika Upin Ipin bertanya mengenai buku pinjaman Jarjit yang sempat diperlihatkan kepada mereka.

Layaknya seorang seorang polisi yang sedang menjalankan tugas, beginilah hayalan dari detektif Upin Ipin. Lagi-lagi , dari saksi yang didapat , mereka tidak menemukan jawaban dimana buku tersebut. Saksi kedua adalah Mei-Mei, yang dijumpai Jarjit seusai berpisah dari Echsan. Mei Mei adalah seorang perempuan, kawan Upin dan Ipin yang keturunan Tionghoa. Ia orang yang pintar dan senang membaca buku.

Judul buku yang dicari detektif Upin dan Ipin , MeiMei juga punyai, hanya sayangnya buku tersebut adalah hadiah dari ibu Mei Mei kepadanya. Kemudian Mei Mei menceritakan, ada seekor monyet yang tiba-tiba hadir saat mereka bermain dompu bersama. Melihat kehadiran monyet tersebut, mereka lari ketakutan dan buku tersebut tertinggal disebuah saung. Karena saat Jarjit menghampiri Mei Mei dan Devi untuk ikut serta bermain Dompu, buku tersebut diletakan disana.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat, kedua detektif cilik itu bergegas menuju lokasi tempat Mei Mei bermain dompu. Setelah ditelusuri lapangan kecil yang terdapat saungnya , Upin menemukan kulit pisang dekat sebuah pohon. Analisa menarik dengan percakapan dan hayalan versi mereka membuat cerita ini semakin berkesan lucu khas anak-anak. Akhirnya Upin dan Ipin menyimpulkan, ada seseorang yang sangat menyukai pisang dan membawanya ke tempat ini.

Perkiraan mereka tepat, mereka datangi tempat berjualan Paman Mutho. Ipin yang menyukai ayam goreng, kadang membuat situasi menjadi lucu karena hayalannya sendiri. “betul..betul..betul” itulah ciri khas jawabannya. Sedangkan Upin yang lebih serius , sering menegur saudara kembarnya jika hayalannya tidak sesuai dengan tujuannya. Raut wajah yang dibuat Ipin, membuat saya ikut tertawa melihat tingkah mereka.

Dari tempat dagang Paman Mutho, mereka mendapat petunjuk ada seseorang yang memang membawa pisang pada saat kejadian. Ia adalah salah seorang kawan Upin Ipin yang tidak dapat berbicara dan jika ada sesuatu hal yang mengejutkan selalu jatuh pingsan. Karena ia tidak dapat bicara hanya melalui gerakan tangan, Upin dan Ipin tidak mengerti akan apa yang dikatakannya. Untunglah ada teman lainnya yang menerjemahkan maksud dari perkataan Ijat.

Di lokasi tempat bermain dompu itu, Ijat memberitahukan bahwa ada seekor monyet melihat isi buku itu. Melihat Ijat membawa pisang, monyet itu mendekati Ijat dan berhasil merebut pisang dari tangan Ijat. Monyet itu berlari-lari dan meledek Ijat yang mengejarnya namun sayang ia tidak berhasil karena monyet itu berlari ke atas pohon dan buku yang dibawanya dijatuhkan mengenai kepala Ijat.

“Abis tu, dikemanakan bukunya?” begitulah kira-kira perkataan Ipin mendengar kisah Ijat yang akhirnya mengetahui bahwa buku tersebut adalah buku milik Jarjit. Sebab, ketika Jarjit memberitahukannya kepada Echsan dan Fizi , sebagai buku yang bagus padahal menurut Echan buku tersebut tidak menarik karena sedikit gambarnya, Ijat ada disana diantara mereka.

Bagian akhir dari cerita detektif Upin Ipin , Ijat memberitahukan bahwa buku tersebut diberikan kepada Ibu Guru keesokan harinya. Pantas saja, pagi itu saat mobil perpustakaan keliling datang, Jarjit jadi begitu ketakutan saat ia mengetahui buku tersebut tidak ada dalam tasnya.

Esok paginya, Ibu Guru memanggil Jarjit ke depan kelas dan memberi buku tersebut kepadanya. Ia berpesan, agar murid-muridnya dapat menjaga baik-baik buku yang dipinjamkan dan lebih bertanggung jawab.

“Kalau ada masalah jangan diam, lebih baik bicara dengan ibu.” Demikian yang dikatakan Ibu Guru saat menyerahkan buku tersebut kepada Jarjitt. Dengan terharu ia mengucapkan terima kasih kepada ibu guru dan mendekap buku itu.

“Nah, sampaikan juga terima kasih kepada kawan-kawanmu yang sudah menemukan buku itu.” Kata bu guru lagi. Jarjit mengikuti apa yang dikatakan gurunya dan mengucapkan terima kasih kepada Ijat yang telah mengembalikan bukunya dan tentunya kepada detektif Upin Ipin yang telah berhasil memecahkan kasus hilangnya buku pinjaman kawannya.

Cerita sederhana dari anak kembar yang sederhana yang memakai kaus kutang dan celana pendek saat bermain, mengajari saya banyak hal. Ceria dunianya anak-anak yang hanya diisi bermain membuat saya tersentuh. Terlebih latar belakang cerita di kampung membuat setiap adegan cerita ini begitu hidup secara alami.

Selain itu masih terdapatnya beberapa permainan anak kampung yang pernah saya lakukan sewaktu kecil. Belum lagi wajah lugu mereka berdua dan kawan-kawannya, aduhai membuat saya makin menyukainya. “betul..betul..betul” :D

http://veronicasetiawati.blogspot.com/

sumber foto : google.com /koleksi upin ipin

Senin, 02 Mei 2011

Writer VS Editor by Ria N. Badaria

RESENSI BUKU VI    
Writer VS Editor by Ria N. Badaria

Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008 – 2009

ISBN : 978 – 979 – 22 – 6586 -6  
Judul : Writer VS Editor , oleh Ria N. Badaria ; 312 hlm, 20cm
Novel Metropop GM 401 01 11 0001
Diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia Building Blok I Lt. 5
Jl. Palmerah Barat No. 29 – 37 Jakarta 10270

Manusia hanya berencana namun Tuhan jua yang menentukan jalan hidup manusia. Itulah yang terjadi dengan Nuna R. Mirja, seorang perempuan muda yang dipenuhi mimpi menjadi seorang penulis setelah membaca Novel karya Rowling JK. Dua tahun selepas SMA hanya membuatnya menjadi pengangguran. Karena Om Harlan, akhirnya jalan hidup membawa dirinya kembali ke Bogor, tempat ia menyelesaikan masa SMA-nya. Tetapi kali ini, ia bekerja sebagai seorang pegawai supermarket.

Saat dia sudah melupakan mimpinya menjadi seorang penulis, tiba-tiba impian itu muncul didepan mata. Nuna menerima sepucuk surat dari salah satu penerbit ternama dan terbesar di Indonesia. Isinya penerbit tersebut akan menerbitkan novelnya. Nuna menerima sepuluh persen dari kontrak pembuatan novel di awal.

Awal cerita dimulai saat editor yang bercita-cita menjadi seorang jurnalis TV itu sedang menangani novel Nuna yang segera naik cetak. Bagaimana awalnya, editor itu begitu sulit dan hampir putus asa menghubungi Nuna yang tidak memiliki handphone. Komunikasi mereka kurang begitu lancar, sehingga membuat Rengga Adi Prayoga, nama Editor muda yang sering membuat buku-buku non fiksi yang ditanganinya menjadi bestseller itu, kesulitan untuk menghubungi Nuna.

Ia membutuhkan Nuna, sebagai penulis pemula untuk membahas beberapa bagian dari tulisannya yang perlu direvisi. Beberapa masalah muncul, termasuk kepindahan atasannya ke kantor cabang kemudian masalah pribadinya dengan pacarnya yang gemar belanja, sehingga membuat Rengga terpaksa menerima ide Radit, rekan kerjanya yang juga seorang editor untuk mengerjai Nuna dengan mentraktir mereka di sebuah restoran.

Kesulitan komunikasi diantar Nuna dan Rengga sedikit teratasi sejak akhirnya kedatangan Kepala Editor Non Fiksi yang baru, atasan Rengga yang bernama Arfat Arman Arselan. Segalanya serasa berubah baik dalam diri Rengga maupun Nuna. Rengga yang sedang mengalami patah hati dan masalah keuangan yang sudah sangat parah karena hobi belanja Marsya kekasihnya, seakan menemukan sesosok yang unik dan membuat hatinya dekat dengan Nuna. Sedangkan Nuna yang masih terkejut akan kedatangan Arfat dari Australia hingga pernyataan Arfat yang membuat perasaannya bercampur aduk karena Arfat datang untuk orang yang cintainya.

Namun Nuna tidak menyadari bahwa Arfat datang hanya untuk dia. Arfat tidak menyadari sebelum ia masuk kedalam hati Nuna, hati dan pikiran Nuna sedang terbelah karena sebuah ciuman yang diberikan Rengga. Hanya sayang, setelah adegan ciuman yang datang bukan pada saat yang tepat dan bukan dari seorang kekasih , semakin memperburuk hubungan Rengga dan Nuna. Percikan api persaingan diantara kedua lelaki itu agar dapat mendapat tempat dihati Nuna begitu tajam. Seperti kisah dalam drama Korea kesukaan Nuna, kisah seorang gadis miskin pekerja keras yang disukai oleh dua lelaki kaya.

Rengga tidak dapat berbuat apa-apa keculai melampiaskan marah dan kecewanya kepada Nuna hingga membuat Nuna tersudut dan bingung. Saat tertentu Rengga tampak ramah dan baik tetapi dapat berubah menjadi sosok yang dingin dan ketus terhadapnya. Puncaknya setelah ia akan memberikan hadiah novel pertama Nuna, saat itulah Arfat secara tak langsung menyatakan hubungannya yang special dengan Nuna.

Walaupun kurang tepat, akhirnya apa yang dirasakan Rengga akhirnya dapat diungkapkannya kepada Nuna. Lagi-lagi, Rengga dan Nuna tidak mempunyai kata yang tepat untuk mengakhiri segala yang bergejolak di dalam hati dan pikiran mereka masing-masing yang saling bertolak belakang. Nuna juga tidak ingin menyakiti hati Arfat yang sudah menjadi miliknya. Semestinya ia bangga, Arfat adalah impiannya sejak dulu SMA. Tetapi hatinya tidak mampu berdusta , ia mencintai Rengga dan hatinya terkoyak serta menghindari Rengga.

Rengga meninggalkan Nuna dan karir terbaiknya di perusahaan penerbit yang sudah membesarkan namanya itu. Ia mendapat kesempatan menggapai cita-citanya dahulu sejak kuliah, menjadi seorang jurnalis TV dan itu didapatkannya disaat persoalannya begitu menghimpit dadanya. Masalahnya hatinya dengan Nuna dibiarkannya menggantung, dan belum terselesaikan saat ia terbang ke Singapura, tempat ia berkarya sebagai jurnalis untuk kawasan Asia Tenggara.

Demikian cerita yang disampaikan Ria N Badaria, dalam bukunya Writer VS Editor. Ia  menuangkan isi cerita dengan begitu menarik. Saya begitu terhanyut mengikuti tiap alur cerita serta  konflik asmara antara Arfat, Nuna dan Rengga. Ketiga tokoh ini berperan sangat baik bahkan terselip misteri yang diungkap Ria dibeberapa bagian ceritanya.

Percakapan yang menarik dan setting cerita yang ditulis Ria tidak terkesan kaku dan monoton hanya disatu tempat saja. Konflik yang diangkat Ria seputar cinta segitiga pun sangat terasa menyentak membuat novel ini terasa hidup. Bahkan setelah saya membaca habis buku setebal 307 halaman ini seakan masih sedang diantara mereka. Seperti kisah nyata yang begitu menyentuh.

Ria pun juga menyelipkan beberapa celetukan yang menghibur dan sangat humoris. Suasana kerja redaksi non fiski dari sebuah kantor penerbit digambarkan dengan jelas di setiap goresan ceritanya. Tampaknya editor novel ini berhasil memberikan suntikan ide kepada Ria tentang sebuah kantor penerbitan, sehingga alur cerita yang disampaikan sangat mengena. Lalu bagaimana kelanjutan dari kisah cinta segitiga yang menjadi gossip hangat dari kantor redaksi non fiksi ini?

Bagian akhir novel dibiarkan menjadi pertanyaan bagi pembaca. Penulis seakan memberitahukan secara tidak langsung bahwa jalan hidup yang sedang dijalani memang tidak pernah sesuai kehendak atau rencana manusia. Walupun begitu, akan terselip kejutan yang mungkin akan menyenangkan manusia atau tidak. Tergantung bagaimana manusia sebagai pelakon hidup harus siap menghadapi kehidupan yang penuh misteri, walaupun dengan ada atau tanpa rencana.

Jakarta, 01 Mei 2011
Veronica Setiawati  
Mail to : mawarputih23@gmail.com