Kraukk.com

728 x 90

my twitter

Follow g1g1kel1nc1 on Twitter
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2016

Pegang Tangaku

Bila dalam perjalanan mendaki kita tidak selalu menemukan jalan yang datar.
Jalan yang datar  kata seorang teman yang mendaki gunung disebut "bonus".
Seperti hidup sehari-hari , bonus pun akan muncul pada waktu tertentu saja.
Bonus itu seperti hadiah yang tidak terduga.

Perjalanan yang menantang adalah pada saat kita mendaki.
Kita harus menanjak , kepala harus mendongak ke atas.
Berjalan bukan hanya memakai kaki, melainkan dengan kedua tangan kita.
Bahkan bila perlu merayap seperti ular.

Seperti dalam kehidupan, ada masanya jalan hidup akan menanjak.
Nafas pun akan terasa berat.
Kita merasa lemah , tidak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan.
Kita merasa ingin menyerah dengan peperangan kita.

Ayo peganglah tanganku!
Janganlah biarkan hidup berhenti sampai di sini.
Tidakkah kita ingin melihat akhir dari perjalanan ini?

Kuatlah hatimu bahwa kamu mampu menyelesaikan perjalanan ini
Nyalakanlah api harapanmu , pendakianmu  bukan  sampai di sini.
Yakinkanlah dirimu bahwa kamu pasti bisa melewatinya.
Percayalah semua akan terbayar dengan sukacita
Kamu akan menemukan dirimu
Karena keyakinanmu itulah yang telah menyelamatkanmu.

Coretan by : veronica setiawati
**Posting ulang dari tulisan sebelumnya yang terhapus**

Foto : Credit to aktor terbaik FFI 2014 Chico Jericho
#fotokeren


Jkt , 18 Maret 2016

Minggu, 06 Maret 2016

Puteraku, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?

Awan gelap menutupi seluruh langit
Gemuruh yang menakutkan membuat orang lari
Mereka menunggu keajaiban tetapi tidak mereka dapatkan.
Apakah mereka tidak merasa bersalah telah menjatuhkan hukuman mati kepada dia?

Mereka pun lari meninggalkan dia
Mereka lebih memilih menyelamatkan diri dari gempa bumi di tempat orang itu mati
Mereka lari dalam kebingungan , mereka tidak mendapatkan apa mereka cari.
Tetapi lihat! seorang wanita berdiri di bawah kaki salib itu.

"Puteraku, mengapa engkau meninggalkan aku?
Biarlah ibumu ini ikut mati bersamamu"
Mata siapa yang tidak akan menangis?
Hati siapa yang tidak akan hancur?
Perwira yang memimpin pasukan itu pun terenyuh
Siapa kah sebenarnya orang yang telah menjalani hukuman ini?

Ia berlari menyelamatkan wanita itu dari guncangan hebat karena alam yang turut bersedih.
"Puteraku.." wanita itu pasrah dan larut bersama kesedihan bumi.
"Biarkan aku bersama dia. Izinkan aku dekat Puteraku."
Wanita itu menerima Puteranya yang dikasihi dalam pangkuannya.
"Puteraku , hatiku turut mati bersamamu. Aku turut dikuburkan bersamamu."

Suatu hari ketika semua orang berlari untuk melihat kubur yang kosong.
Wanita yang bersedih itu mendengar suara kehadiran Sang Putera..
"Ibu, ini Aku. janganlah bersedih hatimu.
Lihatlah ibu, aku bangkit.
Hatimu hidup kembali bersama kebangkitanku
Ibu, lihatlah Aku menjadikan segala sesuatunya baru."

Wanita itu mengalami sukacita yang besar.
Seperti dahulu , ketika kabar malaikat datang kepadanya.
"Aku ini hanya hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu."
Dan senandung pujian kepada Allah di tempat yang maha tinggi terucap dari bibir wanita itu.


*Terinspirasi ketika melihat karya seni PIETA

salam,
veronica setiawati

Twitter : @g1g1kel1nc1
 

Selasa, 09 Februari 2016

Pantang Apa neh Kita?

Waah, ngga terasa sudah kembali masuk masa Pra-Paskah. Artinya mulai Rabu, besok dimulainya Rabu Abu. Artinya selama 40 hari kami, umat Katolik menjalankan masa pertobatan dengan pantang dan puasa. Dan biasanya setiap Jumat, akan diadakan ibadat jalan salib. Mengenang lebih dalam sengsara dan kasih-Nya Yesus kepada umatNya.

Seperti tahun-tahun yang sudah-sudah, selama masa prapaskah ini akan ada pilihan untuk pantang. Misalnya dulu neh bokap gue memilih untuk pantang rokok. Padahal bokap gue ini udah kayak lokomotif kereta jaman masih pakai batu bara.. Tiada hari tanpa merokok.

Gue sering di kasih uang "Nih, beliin rokok ..." Yah , kan gue jadi hapal sekali beli itu dua bungkus dan kalau ada sisa kembaliannya buat gue deh hehehe... Wiih , sampai gue pingin ngerasain rasanya merokok itu kayak apaan sih??

Ya udah gue coba aja icip-icip rokok bekas bokap,, daripada gue penasaran. Manis ujungnya, yang kertasnya rada kuning itu, tapi begitu gue isep eeh gue batuk - batuk.. Waah begini amat.. ribet deh. Apalagi pas mau nyalain musti cari korek. Tapi gue bukannya isep rokoknya supaya bisa terbakar eeh malah gue tiup yaah mana bisa keluar asapnya. Saking ribetnya gue buang tuh rokok satu batang hehehe..

Nah, kembali lagi ke soal bokap gue yang berniat pantang rokok pas menjelang Pra-Paskah. Entah apa yang bisa membuat bokap tiba-tiba dapat keajaiban memilih pantang rokok. Kan, untuk melepaskan kebiasaan itu buatnya susah bener dan buat gue , yaah jatah gue berkurang deh dari setiap kembalian beli rokok.. Dan selama masa puasa dan pantang yang dijalanin 40 hari itu, bokap gue menahan keinginannya untuk merokok atau menyuruh gue beli rokok.

Bokap gue bener-bener konsekuen banget ama niatnya, walaupun gue rayu-rayu untuk beli rokok tetep loh ga bergeming. Mungkin bokap gue tau , niat gue sebenarnya ngincer uang kembalian jadi sebagai gantinya, bokap sediain uang jajan buat gue selama sebulan. Bokap gue kumpulin uang lembaran 500 perak warna hijau yang ada gambar orang utannya itu, sebanyak jumlah hari dalam sebulan.

Wah keren deh, itu pengalaman yang ngga kelupain banget deh buat gue! Gue berusaha untuk cukupin sehari tidak lebih dari 500 rupiah. Kan waktu itu uang segitu jumlahnya besar, lu mau beli makan ampe sekenyangnya disekolah udah lebih dari cukup. Jadi , dari uang pemberian bokap itu gue belajar nabung.

Setelah lewat masa puasa dan pantang, kembali jalani hari-hari seperti biasa seharusnya bokap dapat menikmati lagi nikmatnya merokok lagi, Tapi, ternyata pantang rokok itu berpengaruh dan sangat membantunya sama sekali berhenti merokok. Bokap gue juga heran, sejak niat pantang merokok itu sampai beliau mau menjelang tidak ada dunia lagi , total berhenti merokok. Yaah, setidaknya itulah yang menjadi kesaksiannya semasa hidup atas satu dari berbagai keajaiban dari kebaikan Sang Maha Kuasa.

Sekarang, kembali datang masa pantang dan puasa dan gue belum ada niat yang dalam seperti bokap gue untuk memilih pantang apa. Semestinya gue belajar dari bokap , mempunyai keinginan yang kuat untuk menjalankan apa yang telah menjadi komintmentnya. Yaitu memilih untuk pantang rokok dan akhirnya benar-benar berhenti merokok. Makanya, bokap adalah inspirasi gue dalam menjalani apa yang menjadi komitment.

Sekali lagi gue merenung menunggu menjelang pagi menuju Rabu Abu, hari dibukanya masa pantang dan puasa ini. Pantang apa gue ini ? Apa yang masih kurang baik dalam diri gue dan sangat mendesak untuk diperbaiki?

Ajarlah aku melihat diriku sendiri Tuhan,
Apa sih yang masih kurang dalam diriku ini?
Atau masih ada sesuatu dari diriku yang perlu diperbaiki?
Seperti bejana dalam tangan-Mu,
Tolong bentuklah aku , perbaikilah aku seperti yang Kau mau.

Love u Jesus,
Kau Adalah Bapaku, yang baik..
Miss U


Jakarta, 9 Feb 2016

Veronica Setiawati





 

Minggu, 03 Januari 2016

Jangan Galau Lagi ...

Ini hari ke tiga di tahun 2016. Lu pernah ngga ngerasain takut melewati tahun yang baru? Gue pernah loh..

Waktu itu gue mau akan memulai pekerjaan di awal tahun yang baru. Tapi gue sangat takut dan bayang-bayang bakal menakutkan. Nah, untuk menetralkan rasa takut gue itu, gue hadir di gereja untuk ikut misa di awal tahun baru. Dan itu adalah pertama kalinya gue tahu kalau tanggal 1 Januari itu ada perayaan Maria Bunda Allah. Hehe,, payah yah gue, katolik dari kecil tapi baru kali itu gue tahu ada perayaan itu.

So, di sanalah gue mulai belajar untuk menyerahkan perjalanan gue disepanjang tahun tersebut dalam perayaan misa tersebut. Gue mau belajar dari Ibu Yesus itu menyerahkan diri dan percaya , pasrah kepada Allah. Karena gue kan ngga tau bagaimana caranya diemin eeh tenangin rasa takut gue yang terlalu itu. Kan gue pingin nanti pas gue kerja nanti di tempat yang baru itu gue bisa jalanin dengan tenang.

Sampai sekarang, gue selalu menghadiri perayaan misa ini setiap awal tahun.. Bukan lagi untuk menyerahkan ketakutan lagi tetapi belajar dari Ibu yang sangat di hormati dan dikagumi oleh orang Katolik ini. Gue banyak merenungkan tentang hidupnya, kepasrahannya saat menghadapi kesulitan , keterbatasan, ketakutan bahkan penderitaannya di sepanjang hidupnya. Pengorbanan besar yang dia jalani dan percayanya dia kepada penyelenggaraan Ilahi itulah yang membuat gue belajar darinya.

Tahun ini gue mau belajar pasrah seperti dia. Ingin jalani dengan kesiapan hati sepanjang tahun ini. Lagi pula capek juga pikirin hal - hal yang seharusnya tidak usah dipikirin. Kalau sudah diluar batas kemampuan ya sudah nanti pasti ada jalan keluarnya , yang terpenting sudah berusaha untuk hal tersbut. Karena usia tidak muda lagi , yang namanya ketahanan tubuh juga sudah mulai berkurang. Yang penting jaga kesehatan saja dan jangan disusupin ama pikiran yang macem-macem atau yang diluar batas kemampuan, takut tidak bisa di jalanin.

Hmm.. gue udah siap jalanin tahun 2016 ini. Gue pingin lihat dan jalani apa yang terjadi di sepanjang tahun ini. Entah bakal bertemu siapa, perjalanan ke mana , ada kegiatan apa atau mungkin ada yang istimewa di tahun ini , cinta barangkali?? gue siap aja , siap buka hati , siap jalanin dan siap patah hati lagi Hahahaha.... aahh yang penting gue siap lah.. Siap grak!

Jangan lagi hanya masuk dan diam ke dalam cangkang yaa..
yuk pelan-pelan keluar tunjukkan wajah dan berjalan. Pelan - pelan jalannya juga gak apa-apa, belajar melihat dan beradaptasi mungkin ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk sekitar supaya lebih baik..

Hidup ini indah.. indah banget dan rugi kalau dilewati hanya dengan galau kepanjangan.. Gue ingin punya sukacita biar gue bisa hidup selama-lamanya hehe...


salam.
veronica setiawati

Minggu, 03 Mei 2015

Fenomena Bunuh Diri

Saya menjadi bertanya dengan beberapa peristiwa bunuh diri yang terjadi. Bukan hanya menimpa orang dewasa melainkan anak yang masih sekolah dasar pun juga. Apakah yang sebenarnya terjadi pada mental mereka?

Masih kita ingat, beberapa orang yang dengan sukarela mau menjadi korban untuk bunuh diri dengan melekatkan bom pada dirinya. Kemudian beberapa jemaat yang mengadakan bunuh diri massal karena menduga hari kiamat sudah dekat. Juga orang tua , yang mati bunuh diri bersama-sama dengan anak-anak mereka.

Saya jadi bertanya seberapa besar nyawa kita? Sudah terlampau berat kah hidup ini hingga rela mati seperti itu? Atau mereka akan mendapat upah atau balasan karena telah berjasa melakukan bunuh diri?

Mungkin benar dunia ini sedang membutuhkan sebuah rasa penerimaan atas mereka. Ketika hendak kita menolong orang lain wacananya lebih panjang dan lebar sehingga lupa untuk beraksi. Kemudian saya merenung, pertolongan seperti apakah yang dapat membantu lalu membuat orang-orang seperti ini , untuk tidak bunuh diri?
Yaah mungkin saya masih hanya bisa berteori dan berwacana saja. Tetapi untuk aksi masih nol besar. Tetapi saya tetap berharap dapat melakukan sesuatu ...

Minggu, 05 April 2015

Selamat Merayakan Belas KasihNya!

Kita bersyukur telah melewati Retret Agung selama 40 hari. Kita berjuang dalam doa, pantang dan puasa serta amal bakti sebagai ujud kita melawan segala hal yang tidak baik. Kita memurnikan diri, mengasingkan diri , hidup dalam Sabda Allah, belajar hidup miskin, lemah dan tersingkir dari dunia ini.

Masa Prapaskah seharusnya membuat kita menjadi peka karena kita menjadi manusia yang baru. Dan di malam paskah , di mana Cahaya Kristus menang atas kuasa maut , kita membarui janji babtis kita. Kita menolak hal-hal yang jahat, tahyul dalam bentuk apapun serta kita menyatakan  percaya kepada Allah. Kita didamaikan kembali dengan Kristus lewat kebangkitannya yang telah turun ke tempat penantian dan pada hari ketiga Ia bangkit dari alam maut.

Sebagai manusia baru, kita telah diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan sehari – hari. Kita tidak lagi memandang manusia lain sebagai musuh tetapi sebagai saudara. Kita akan menjadikan nyata, masa-masa dimana Tuhan yang telah bangkit itu, menunjukkan kerahimanNya yang tiada batas,
yang telah kita terima untuk kita teruskan kepada sesama kita.

Belas kasihNya Ia tunjukan kepada Thomas.Ketika Ia menunjukkan bekas luka-luka pada tubuh suciNya, agar tidak ada lagi keraguan di dalam hati
Thomas kepadaNya. Keraguan itu menghalangi Thomas untuk mengasihi Yesus.

Begitupun juga kepada Petrus, murid yang dikasihi dan telah dipercayakan kunci kerajaan surga. Ia menghapuskan rasa bersalah dalam hati Petrus. Ia menguatkan kembali kepercayaan diri Petrus dan cinta Petrus yang terdalam.

Bila kita renungkan kembali perjalanan hidup kita. Berapa banyak belas kasih Allah yang telah kita terima? Dan berapa banyak , belas kasih Allah yang telah kita terima itu, kita berikan juga kepada orang lain diluar diri kita? Bila kita telah mendapatkan belas kasih kasih Allah yang begitu besar,  mengapa kita tidak ingin memberikannya kepada sesama kita?  

Kita telah diberikan kehidupan, oleh sebab itu cintailah kehidupan itu sebagai anugrah dari Tuhan. Kita diberikan alam semesta yang begitu indah , hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan yang ada , berbelaskasihlah kepada ciptaan Allah itu.

Dunia ini miskin dengan belas kasih. Dunia ini walaupun terlihat sangat mewah dan megah tetapi isinya penuh dengan kekerasan, ketidaksabaran, persaingan, keegoisan, kesombongan, irihati, kepalsuan, kesesatan dan cinta uang. Semua hal itu sepertinya membuat manusia menderita dan semakin membuat belas kasih itu hilang dari hati. Sampai – sampai untuk mencari orang yang tulus hati pun menjadi seperti barang langka.

Sebagai umat Kristen yang telah mengalami belas kasih Allah, dunia ini adalah ladangNya untuk menyebarkan benih – benih belas kasih Allah. Biarkan jiwa kita yang telah dibebaskan berkat kebangkitan Kristus, melakukan kebaikan dengan meneruskan belas kasih Allah itu kepada semua orang.

Semoga ujud-ujud doa dan komitment kita pada waktu masa Prapaskah dapat kita wujud nyatakan dalam tindakan yang penuh belas kasih kepada mereka yang kecil, miskin dan tersingkir. Mereka yang diperlakukan tidak adil , mereka yang hilang dan terbuang , mereka yang tersisih, mereka yang
lapar, haus , terpenjara, tidak punya tempat tinggal, sambil kita terus memohon kepada Yesus agar kita dimampukan untuk melakukan tindakan belaskasih tersebut.

Selamat Merayakan Paskah,

Selamat Merayakan Belas Kasih Allah kepada manusia,
Belas Kasih Allah itu kiranya yang selalu menjadi pedoman hidup kita
dalam ucapan dan melakukan tindakan apapun.

Salam

 Veronica Setiawati

Kamis, 12 Maret 2015

Beban Hidup : Kesulitan Ekonomi.



Tidak bisa dihindari, hidup di kota besar seperti Jakarta, tidak mungkin tanpa adanya uang.  Permasalahan kurangnya uang  untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga dapat membuat otak manusia berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang dengan cepat dan banyak. Mudah-mudahan masih ada orang yang memakai hati nurani dan akal sehat untuk mencari uang tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Bisa dibayangkan bila kebutuhan setiap hari harganya tidak terjangkau dan keuangan yang dipunyai sebuah keluarga ternyata di bawah harga tersebut. Jalan satu-satunya untuk mencukupi adalah hutang. Dan tak sedikit keluarga yang akhirnya terjebak dalam lingkaran setan yang bernama hutang. Barang-barang pun ikut lenyap untuk melunasi cicilan dan bahkan anggota keluarga terpaksa ikut mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Saya sebenarnya kasihan dan tidak tega bila semua anggota keluarga harus terlibat dalam urusan mencari uang. Karena bisa saja terlalu memikirkan uang sampai lupa keadaan dirinya, keluarganya , lingkungan sekitarnya dan lupa segala-galanya. Saya tidak ingin mengharapkan agar mereka yang terlalu mengabdikan dirinya untuk mencari uang sampai lupa untuk memperhatikan penderitaan sesamanya atau penderitaan yang ada di dalam keluarganya.

di pasar
Kalau memang sedang kesulitan dalam hal keuangan, batasi diri jangan sampai gila untuk memenuhi pikiran dan hati untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Cukuplah untuk sampai memenuhi kebutuhan hidup dan bila ada hutang lunasi segera.

Juga mengenai minimnya lowongan pekerjaan dengan gaji yang sesuai. Mungkin tidak semua perusahaan akan memberlakukan peraturan yang ada , mereka pun juga tidak ingin rugi. Ada juga perusahaan yang seenaknya menggaji karyawannya, menekan hidup mereka dalam peraturan-peraturan yang dibuat-buat. Tidak ada pemberitahuan apakah yang menjadi hak ataupun kewajiban karyawan. Bisa jadi karena sesuatu kesalahan yang kecil, karyawan tersebut diberhentikan sepihak.


Kebutuhan akan hidupnya memaksa orang untuk mencari dan agar kebutuhan itu terpenuhi segera. Sekarang banyak juga orang-orang yang berjualan. Mereka berlomba-lomba untuk memasarkan produk-produk mereka. Dari online sampai turun ke jalan. Dari di supermarket hingga ke perumahan. Ini gejala apa?
Apakah karena alasan harga yang naik? Gaji bulanan yang diterima tidak cukup untuk memenuhi makan, minum, dan biaya sehari-hari belum lagi untuk pembayaran tagihan bulanan yang juga harus dipersiapkan.

Banyak orang jeli melihat peluang dan sayangnya hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Seperti kapal yang akan tenggelam , mereka berlomba-lomba mencari sekoci untuk menyelamatkan dirinya.  Mungkin tulisan saya ini salah dan mungkin masih ada jiwa-jiwa manusia yang murni dan tulus untuk mencari bekal kebaikan untuk sesamanya. Mungkin masih ada juga yang menjadi seperti Robin Hood.

Entahlah, menurut saya butuh perjuangan berat untuk mencukupkan kebutuhan hidup di kota besar secara ekonomi. Keluhan dari mahalnya harga kebutuhan sekolah, kebutuhan pangan, pakaian, dll membuat kepala sakit dan jiwa menjadi putus asa.

Mudah-mudahan kita tidak cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri ya, masih banyak kok kebaikan yang akan kita jumpai di tengah keruwetan. Masih banyak juga orang-orang yang merasakan pertolongan dari kebaikan sesamanya walaupun di tengah cueknya orang-orang kota akan penderitaan dan kesusahan orang lain. Bantuan tidak hanya berupa uang, tapi kalau orientasi kita hanya melulu uang semoga bisa melihat kebaikan orang lain dari sisi yang berbeda dan bukan suatu bentuk persaingan untuk mendapat popularitas..


Kita semua sama-sama mengeluh, menahan sakit seperti perempuan yang akan melahirkan karena situasi ekonomi yang tidak jelas ini. Semoga satu perbuatan baik kita dapat memberikan dampak bagi orang lain dan mereka pun dapat meneruskan lagi kepada yang lain. Sehingga kita mampu menyelesaikan masalah ekonomi yang boleh dikatakan sebagai beban hidup ini.


Sekian coretan uneg-uneg saya yang tidak jelas ini. selamat malam

Salam
veronica

Sabtu, 27 Desember 2014

Renungan : Siapa Yang Ku Layani?


Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa melayani itu adalah sebuah panggilan hati. Sehingga kita dapat tergerak untuk melakukan sesuatu untuk orang lain. Lalu kepada siapa, pelayanan kita ini seharusnya diberikan?

Keluarga , adalah tempat kita memulai pelayanan. Di dalam keluarga, pekerjaan yang sederhana dan tampak biasa dilakukan dapat menjadi awal mula kita melayani. Tidak mungkin kan, pekerjaan rumah diserahkan hanya kepada satu orang saja? Atau di dalam rumah, hanya karena ia seorang kepala rumah tangga, maka menganggap dirinya adalah raja, hanya selalu memerintah dan menunjuk ?   Hanya menuntut hasil akhir yang baik tetapi mengabaikan usaha dari anggota keluarga yang lain?

Di dalam keluarga, kita dapat belajar saling melayani. Dengan talenta atau saling berbagi tugas diantara satu keluarga, maka segala urusan yang hanya dikerjakan satu orang dapat cepat terselesaikan. Tidak ada yang merasa jadi boss atau tukang suruh saja tanpa pernah mau menerima kesalahannya, tidak ada yang menjadi pelayan saja tanpa didengarkan suaranya, tidak ada yang berkelahi karena berebutan pelayanan, tetapi semuanya mau secara sukacita menjalankan tugasnya masing-masing.

Dalam keluarga, kita dapat belajar peka terhadap kebutuhan anggota keluarga yang lain. Kita belajar memahami perasaan mereka, mengenal karakter, sifat jelek atau pun kekurangan yang menjadi kelemahan dan ketakutan dari anggota keluarga kita. Dari keluarga sendiri, kita belajar mengasihi mereka dan menerima mereka apa adanya. Dari keluarga , kita belajar menerima perbedaan. Kita belajar berdoa, belajar sharing pengalaman, dan belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan sopan, ramah dan murah hati.

Namun yang menyedihkan, keluarga malah sering dijadikan tempat melampiaskan emosi negatif. Tanpa kita sadari , justru di dalam keluarga kita sendiri, kita sering mengeluarkan kata-kata atau perbuatan yang menyakitkan hati. Kadang juga kita merasakan ketidakpedulian, kita merasakan ketidakadilan karena mungkin orangtua, anak-anak, adek, kakak, atau anggota keluarga yang lain lebih mementingkan urusannya sendiri. Atau mungkin kita sendiri tidak adil dan tidak perduli dengan keluarga kita. Kita tidak dapat mengerti mereka karena kita hanya menginginkan kitalah yang harus dimengerti.

Ada juga karena ketakutan yang berlebihan sehingga membuat salah seorang anggota keluarga kita seperti dipenjara dan tertekan kebebasannya. Tak dipungkiri luka-luka batin dan rasa kehilangan seorang sosok dapat terjadi di dalam sebuah keluarga. Bahkan , seringkali kita mendengar, melihat atau mengalami peristiwa yang buruk terjadi di dalam sebuah keluarga seperti perceraian, sejak bayi mau di aborsi , penolakan dari orangtua, di perlakukan kasar oleh anak, kekerasan dalam rumah tangga, mengalami pelecahan seksual semasa remaja atau anak-anak, trauma perlakuan buruk dari orangtua atau dari mereka yang dianggap orangtua , dan sebagainya.

Keluarga yang seharusnya menjadi tempat belajar melayani , malah dianggap sebagai neraka yang harus dijauhi. Luka-luka yang mungkin tak kita sadari , kita bawa sampai dewasa ternyata justru menimbulkan luka kepada orang-orang yang dekat dengan kita. Niat kita untuk melayani malah justru menimbulkan masalah buat orang lain, membuat kita tidak membawa berkat, damai dan kasih kepada semua orang. Kita menyalahkan orang lain dan diri kita sendiri sehingga malah timbul pertengkaran dan sakit hati kembali. Apakah pelayanan seperti ini terus yang akan kita bawa di hidup kita?

Datanglah kepada Hati Kudus Tuhan dan mintalah penyembuhan dari Tuhan. Mintalah hati yang baru sepertiNya , Hati sebagai seorang hamba supaya kita di mampukan untuk bisa melayaniNya dengan benar. Ingatkah kisah orang Samaria yang baik hati? Kisah kebaikan orang Samarian dan orang yang di tolong adalah sikap saling melayani.

Saat kita terluka , kita adalah korban itu, kita tergeletak di jalan, harta kita sudah dirampas dan yang tersisa hanyalah tubuh kita tanpa identitas yang penuh luka pukulan dan hampir mati. Tetapi,  ternyata kebaikan Tuhan mau datang dan kita ditolong oleh orang yang baik. Kita dirawat hingga luka-luka kita sembuh dan benar-benar pulih. Kita ditolong dari trauma peristiwa yang telah terjadi sehingga pikiran kita benar-benar sembuh. Kita jadi berani untuk bisa memulai hidup yang baru. Setelah benar-benar pulih , kita dapat kembali menjalani tugas kita. Apakah kita tidak akan bersyukur dan berterima kasih kepada orang tersebut atas kebaikannya?

Apakah kita tidak akan sujud mengucap syukur tiada hentinya karena masih diberi kesempatan hidup dan melayani walaupun sudah merasa tidak pantas? Hidup kita kembali dibuat berharga untuk melayani dan mengampuni. Yah, mengampuni orang-orang yang telah melukai hidup kita dahulu, yang telah membuat kita manusia tanpa identitas, membuat kita hampir mati.

Dengan mengampuni, maka hidup baru yang telah kita terima akan kita jalani lebih bermakna lagi. Dan sebagai orang yang Samaria, apakah tidak ada rasa syukur yang timbul dari dalam hatinya karena telah membuat hidupnya menjadi bermakna untuk orang lain? Mungkin dari pertolongan yang tulus tersebut, dia menyadari bahwa menolong manusia lain tanpa melihat latar belakangnya, ada rasa syukur dari dalam hatinya karena telah menyelamatkan nyawa orang lain.

Kita pasti akan tergerak lebih lagi untuk membantu mereka yang lemah , terluka dan terbuang. Bahkan di dalam keluarganya juga , kita juga akan melayani dengan sukacita, merangkul semua anggota keluarga, memperhatikan mereka , membantu dan mendukung tiap anggota keluarga. Kita menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi keluarga. Kisah dari orang Samaria tersebut menyadarkan kita adalah satu keluarga di dalam Tuhan. Apakah kita mau mengakuinya?

Sebagai satu keluarga, maka kita perlu saling melayani sebagai anggota keluarga. Dengan kemampuan, kepandaian, ide-ide atau pun kelebihan-kelebihan yang kita miliki, kita dapat menjadi satu team yang solid. Tidak ada kan dari tubuh kita merasa paling penting? Bayangkan, bila anggota-anggota tubuh itu saling bertengkar karena merasa telah paling berjasa, bagaimana kita bisa menjalani kegiatan kita sehari-hari?

Jika kita hanya bertengkar dan saling menyakiti satu sama lain maka tujuan kita dalam team atau satu keluarga tidak akan tercapai. Kita akan terlalu lelah karena bertengkar, kita kehilangan fokus dan tujuan untuk mencapai garis finish, karena kita masih sibuk dengan urusan pertengkaran kita yang tak kunjung selesai. Tujuan hidup kita supaya kita dapat melayani orang lain tidak dapat kita lakukan.

Jikalau begitu , siapa yang seharusnya kita layani? Angkatlah kepala kita dan bukalah mata kita dan lihatlah orang-orang yang ada di sekitar kita, komunitas kita, gereja kita. Ladang telah menguning siap untuk dituai. Kita dapat terlibat di dalam kegiatan kegereja, di lingkungan, di wilayah, di masyarakat dan negara.

Kita akan seperti domba yang akan di lepaskan di tengah-tengah kawanan srigala. Sudah siapkah kita melayani mereka? Sudah siapkah kita berkorban, sakit hati, terluka karena cinta kita di dalam pelayanan? Siapkah kita bertemu orang-orang yang bebal, orang-orang yang akan membelokan pelayanan kita ke arah lain? Siapkah kita untuk menerima dengan lapang dada , bila pelayanan kita di gantikan oranglain? Siapkah menjadikan hidup seperti roti yang terpecah bagi orang banyak ketika melayani? Siapkah kita menjaga api pelayanan kita sendiri agar selalu tetap menyala? 

Seperti kita ketahui dari kisah di kitab suci, banyak nabi, yang awal mulanya mereka menolak panggilan dari Tuhan atau merasa tidak pantas. Tetapi gerakan hati mereka membuat mereka melakukan panggilan tersebut tanpa paksaan. Kadang mereka putus asa dengan orang-orang mereka layani karena tidak sesuai harapan Tuhan dan tak jarang mereka merasa sendirian. Tetapi di saat tak berdaya seperti itu, selalu hadir suara Tuhan yang menguatkan iman mereka.

Mereka di kuatkan hatinya oleh perkataan Tuhan, hingga mereka tetap setia menjalani tugas perutusannya dan mengirimkan orang-orang yang membantunya. Mereka tidak sendirian ketika menjalankan panggilan Tuhan itu. Mereka saling bersatu hati, saling mendoakan, saling menguatkan di tengah keadaan yang sulit. Hingga mereka dapat menyelesaikan tugas perutusan itu sampai akhir hidup mereka.

Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa selalu ada orang-orang yang disediakan Tuhan untuk kita layani dan selalu ada orang-orang yang akan membantu kita dalam pelayanan. “Kepada siapapun Kau ku utus pergilah, janganlah takut Aku menyertaimu.” sabdaNya. Bahkan Dia bisa berikan siapa saja tanpa kita pikirkan sebelumnya, untuk kita layani, contohnya  seperti kisah Rasul Philipus yang membaptis seorang sida-sida Ethiopia.

Yang kita tahu , saat kita melayani, kita tidak akan dibiarkan sendiri. Imanuel = Tuhan beserta kita itulah janjiNya. Kita akan selalu disertai dan kita akan selalu menjadi berkat untuk sesama. Kita membentuk sebuah tunas baru lewat pelayanan kita karena kemurahan hati Tuhan. Pelayanan kita seperti menabur benih. Dan hasil dari benih tanaman itu tidak bisa kita lihat saat ini, tetapi kita berharap kepada yang punya tuaian dan pekerja-pekerja ladangNya, tentulah dengan kuasaNya yang tak terlihat, Ia turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi umatNya.

Dan lewat doa-doa kita pun kita menyerahkan mereka , orang-orang kita layani kepada Tuhan.

 Marlah berdoa :

Tuhan Yesus, kami telah belajar mengapa kami harus melayani.

Kami juga mau belajar untuk memuliakan namaMu di dalam hidup kami.

Kami mau menjadi pembawa kabar baik kepada siapa saja yang kami jumpai.

Tetapi kadang kami tidak siap untuk melayani.

Ajarilah kami memulainya dari keluarga kami.

Jadikan kami manusia yang sungguh berharga ,

dengan menjadi Roti yang terpecah bagi sesama.

Dengan kasihMu dan semangat pengampunanMu ,

maka bantulah kami dalam pelayanan kami.

Semua kami lakukan demi kemuliaan NamaMu saja. Amin

 

Selamat melayani,

Veronica Setiawati

Renungan : Mengapa Aku Harus Melayani?


Sebelum kita menjawab pertanyaan diatas , coba kita ingat kembali awal mula kita melayani. Ada yang melayani karena ajakan orangtuanya, pacar/pasangannya. Atau ada juga karena jabatannya yang harus melayani orang ataupun karena ingin mengisi waktu luang. Ada juga yang melayani karena mendapat keajaiban dari Tuhan karena telah disembuhkan dari penyakit, dibebaskan dari kesulitan, selamat dari musibah sehingga ungkapan syukur yang dilakukan adalah dengan mau melayani. Ada juga harus melayani karena kehilangan orang yang disayang dan dicintai, sehingga rasa kehilangan tersebut di salurkan untuk menolong mereka yang juga mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dan masih banyak alasan yang lain.

Kalau di lihat dari awal mula kita melayani orang lain diluar diri kita, di mulai dari hal-hal yang sederhana. Banyak tokoh yang memulai karya pelayanan mereka karena hati mereka tergerak untuk membantu orang lain dari hal yang sepele. Melihat orang yang kelaparan di jalan dan meninggal sia-sia tanpa ada yang memperhatikan, Ibu Teresa memulai pelayanannya di India. Hanya karena alasan supaya anak-anak tidak terlibat kerusuhan setiap ada bunyi tiang listrik di Talehu – Maluku, maka Bapak Sani , tokoh utama dalam film Cahaya Dari Timur – Beta Maluku, tergerak hatinya mau melatih mereka sepakbola yang pada akhirnya membawa mereka menjadi pemenang pada pertandingan sepakbola U15. Dan masih banyak tokoh lainnya yang dapat kita renungkan alasan awal mula mereka melayani.

Kalau kita menyadari lebih dalam lagi, melayani adalah sebuah panggilan dari hati nurani kita. Melayani itu bukan ditujukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk sebuah tujuan yang baik, yakni menolong orang lain supaya hidup lebih baik, yang mungkin bisa jadi lebih baik dari dirinya sendiri. Melayani, mengajarkan kita sebuah tanggung jawab yang dikerjakan dengan sukacita dan hati yang penuh gairah. Kita secara bebas mengikuti panggilan hati kita dan menyatu dengannya, seperti darah dan denyut jantung yang tidak terpisahkan.

Hidup kita lebih banyak penderitaan, tentulah itulah kenyataan yang harus kita sadari. Kepahitan hidup dan penolakan serta tuntutan yang tinggi yang sepertinya tidak terjangkau oleh kemampuan kita selalu membuat kita putus asa dan ingin mengakhiri hidup. Hal tersebut pun akan kita alami pula di dalam pelayanan kita dan mungkin kita akan menyalahi apa yang telah kita lakukan serta merasa sudah sia-sia.

Niat baik yang kita pakai sebagai alasan untuk membantu orang lain tidak selamanya akan mendapat dukungan yang tulus juga. Dan apa yang akan kita jalani juga akan terasa berat. Untuk mengucap syukur pun rasanya tidak ada. Ketika kita dalam keadaan seperti ini, dukungan dari orang-orang yang mengerti sangat dibutuhkan. Dukungan yang penuh bahwa kita sungguh dipercayai bisa melakukan dan menyelesaikan tanggung jawab atas tugas pelayanan ini.

Dan bila kita berada diposisi orang yang memberikan dukungan. Berilah dukungan yang tulus dan sungguh dibutuhkan sehingga kita tidak seakan-akan turut menambah beban atau memojokan. Oleh sebab itu kita butuh kepekaan untuk mengetahui kebutuhan orang-orang seperti itu, seperti dihargai, diterima, didengarkan, diikutsertakan.

Kembali kepada pertanyaan di atas, disaat yang sulit apakah kita masih mau meneruskan pelayanan tersebut ataukah kita berhenti dan menambah luka ke orang-orang yang telah kita layani? kita perlu satu hati, pikiran dan tujuan ketika melayani. Karena tentulah kita tidak mau apa yang sudah kita lakukan sebagai panggilan hati ini menjadi usaha yang sia-sia. Kita sadari bahwa kita manusia terbatas , kita membuka diri dan juga memotivasi diri sendiri serta orang yang kita layani.

Ketika kita menghadapi hal yang sulit dalam pelayanan, sejujurnya masalah tersebut akan menentukan kualitas kedewasaan kita secara mental. Kita melihat kembali apakah jawaban dari panggilan ini apakah pelayanan ini sungguh-sungguh dari hati , untuk kebaikan orang banyak ataukah hanya sekedar mencari pujian semu. Apakah hanya ingin melayani ego kita sendiri?

Kesungguhan pelayanan kita diuji pada saat yang sulit dan berat di dalam pelayanan kita. Keterbukaan terhadap diri sendiri dan membutuhkan Rahmat Allah menjadi dasar semangat kita untuk kembali pada pelayanan kita. Sebagai manusia lemah dan gampang jatuh dalam kelemahannya sendiri, kita membutuhkan dukungan dari Dia, Allah Sang Raja hidup kita untuk menjalani niat baik dalam pelayanan yang telah kita lalui baik itu di dalam kesulitan maupun kejayaan.

Kita mohon agar kita dimampukan untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab tersebut dan mengucap syukur selalu atas penyertaanNya yang tiada putusnya. Sehingga hidup pelayanan kita semakin meningkat dan sungguh berkualitas karena kita telah setia terhadap suatu perkara dan kita telah menyelesaikannya bersama Tuhan. Dan kita menjadi semakin bersyukur , sehingga hati kita akan semakin bersukacita dan semakin rendah hati dalam pelayanan selanjutnya karena semua hanya untuk kemuliaan NamaNya. Karena alasan tersebut maka niat kita melayani semakin diperbaiki , semakin bermakna dan semakin penuh dengan ucapan syukur.

Bersyukurlah selalu di dalam Tuhan Allah kita, karena kita turut serta di dalam pelayanan bersamaNya!

Selamat melayani,

Veronica Setiawati


Jumat, 19 September 2014

Melayani , menurut mu apa artinya?



Melayani adalah pekerjaan dari pelayan. Pelayan sekarang tidak hanya untuk mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tetapi meluas hingga ke rumah ibadah bahkan Negara. 

Kalau di lihat dari pekerjaannya seorang pelayan itu berarti mendahulukan orang yang dilayaninya dan bila tugasnya selesai barulah dirinya sendiri. Atau bisa jadi , ia melupakan dirinya sendiri karena waktunya dan hidupnya dihabiskan untuk melayani orang.

Kalau sudah begitu , apakah ada yang mau melakukan tugas sebagai pelayan itu? Macem-macem tujuan orang mau melakukan tugas pelayanan.  Sekedar atau ada juga yang sungguh mejalankannya. Ada yang murni dan tulus menjalanan pekerjaan melayani ini ada juga yang membutuhkan imbalan dari apa yang telah dilayaninya.

Kalau menurut saya , sah-sah saja jika setiap orang menanyakan apa upahnya dari melayani ini? Karena setiap perbuatan dari hasil pemikiran dalam melayani orang pasti ada upahnya. Saya rasa , Yang Maha Kuasa pun tidak akan diam bila dilihat umatNya yang tulus dan murni melayani tidak mendapat upah dari hasilnya melayani. Bahkan untuk melayani pekerjaan yang mengandung kejahatanpun , juga ada upahnya.

Logo APP2014
Melayani , menurut saya adalah pekerjaan yang menuntut diri keluar dari ke-aku-annya karena mendahulukan orang lain, membantu orang lain dalam menyiapkan kebutuhannya , memfungsikan dirinya terlibat di dalam kelompok disekitarnya.   

Lihatlah orangtua yang mempunyai anak kecil , mereka pun melayani anak itu. Para pembantu rumah tangga, mereka melayani majikan dalam hal membereskan rumah. Guru melayani muridnya dalam hal memberikan pengetahuan. Para karyawan melayani atasan mereka dalam membantu menyelesaikan pekerjaan kantor, para mentri membantu kepala Negara dalam mengurusi bidang-bidang tertentu. Dan lainnya.

Lalu apakah melayani hanya untuk mereka yang “kelihatan” menjadi atasan? Kalau ada yang beranggapan Atasan atau para Tuan itu tidak melayani, janganlah pernah jadi Tuan. Saya malah bilang kepada mereka “Belajarlah dari para pelayanmu itu!”

Mereka , punya kekuatan ( Power ). Setiap perkataan ataupun perintah ucapannya itu menjadi perintah. Bila mereka tidak mau memberikan diri mereka untuk melayani dengan cara memperhatikan kebutuhan , memberikan kesejahteraan dan rasa aman kepada mereka yang telah setia melayaninya sebagai Tuan atau kepala. Sehingga keseimbangan dan pepatah “Saling melayani” itu sungguh dilaksanakan dan tidak terputus.
Memang sifat dan karakter manusia itu berbeda-beda, bahkan mereka pun suka menuntut lebih karena melihat dari apa yang telah dikorbankan untuk melayani. Tetapi , saya ingin bertanya, “Adakah belas kasihan sewaktu kita melayani?”

Siapapun entah tuan atau hamba, pasti akan merasakan tuntutan yang besar ketika mereka melayani. Keegoisan, persaingan, popularitas, uang, kemasyuran dan segala keinginan manusiawi ingin di dapatkan bahkan sampai mengorbankan sesamanya. Apakah harus selalu seperti itu kalau melayani?

Kita diberi kebaikan hati dan bahkan dalam ajaran keyakinan kita masing-masing pun diajarkan yang baik untuk sampai kepada Sang Maha Pencipta, tetapi kenapa dalam melayani sesama atau umatnya yang sama keyakinannya saja, harus membusungkan diri seolah-olah hanya dialah yang benar dalam melayani? Coba renungkanlah , kita sama-sama hidup di bumi yang satu dan saling berkaitan satu dengan yang lain. Seharusnya kita pun bisa untuk saling melayani.

Semoga kita dapat menggali lagi arti yang lebih dalam dari kata “Melayani” ini. Dan tanyakan pada diri sendiri di dalam doa pribadimu, apakah aku sungguh telah melayani? Dan apakah caraku dalam melayani sesamaku sudah benar?

Semoga Tuhan Memberikan Hati yang baru untuk melayani..
Salam,
Veronica Setiawati

Jumat, 06 September 2013

my poem


1Sendiri
Sendiriku .. apakah itu mengganggu kalian?
Sendiriku… apakah itu keganjilan buat kalian?
Apakah aku dianggap kelainan jika aku sendirian?
Apakah hal itu membuat kalian heran karena tidak ada pria disampingku?

Aku ingin menjalani pertemanan dengan siapapun
Tanpa harus aku melapor dengan siapa aku bersama
Ataupun kalau aku berdua tak penting untuk kalian
Kalau aku ingin simpan semua urusan pribadiku
Apakah itu menjadi masalah buat kalian?

Tapi terima kasih atas perhatian kalian
Apabila kesendirianku ini sangat ganjil dimata kalian
Doakan semoga Tuhan menggenapkannya.


2Dia
Dia hadir kembali saat aku mulai ingin melupakannya
Dia hadir kembali setelah ku mohon agar Tuhan membantuku sibuk
Entah apa yang aku harapkan darinya sekarang?
Aku perhatian padanya entah kenapa aku lakukan itu?
Apa karena yang pernah ku katakan itu masih melekat di hatiku.?
Dan sekarang…
Secepat angin ia masuk hingga ke pusaran hidupku
Dan aku tak bisa melepaskannya..
Karena aku sendiri lah yang membiarkan dia masuk
Yaah mungkin karena sayang itu masih ada


Kuatir
Kata orang, semua indah pada waktunya
Apakah kata-kata itu hanya sekedar kata penghibur?
Tidak ada yang dapat menjamin masa depan
Oleh sebab itu banyaklah yang menjadi kuatir

AKu kuatir akan hidupku dan masa depanku
Aku kuatir akan akibat dari yang aku telah lakukan
Aku kuatir untuk suatu hal yang belum pasti terjadi
Aku kuatir karena aku terlalu berlebihan kuatir

4.      Putus cinta
Aku tidak tau rasanya putus cinta
Karena semua itu sudah lama terjadi
Tapi hal itu akan menguras tenaga dan pikiran
Juga  mengganggu katanya metabolism tubuh.,

Seperti yang telah terjadi pada seorang teman
Tak diduga hal itu terjadi padanya
Entah siapapun orangnya pasti rapuh hatinya
Hanya mental yang kuat yang mampu melewatinya..

5.       My dear sunset
Cahaya emas sore itu menyapaku
Apa kabar my dear sunset?  Telah lama aku tak melihatmu
Diberkatilah sore ini karena aku menjumpaimu
Seperti orang yang sedang kasmaran aku menganggumimu
My dear sunset…
Kamu ternyata selalu menggetarkan hatiku
Kamu membuatku terpesona
Kamu memberiku harapan baru
Bahwa kamu hadir dan selalu menyertaiku

6.       Malaikat cinta
Bila cupid itu ada apakah ia telah menembusi aku dengan panahnya?
Atau apakah ia ternyata salah memanah pasanganku?
Ooh … kalau sampai terjadi aku akan marah padanya, malaikat cinta yang nakal
Timbul pertanyaan apakah kekacauan asmara dibumi ini juga karena kenakalannya?
Aku tak bisa bayangkan bila itu benar..
Betapa banyak urusan yang harus diselesaikan dan kacaunya asmara tiap insane didunia karena ulahnya.
Apakah cupid, begitu aku memanggilnya, akan dihukum Tuhan?
Apakah Tuhan akan melemparkannya ke bumi seperti yang Ia lakukan kepada Lucifer?
Bila iya, mungkin cupid yang sedang menjalani hukuman itu marah dan membuat kekacauan di bumi..
Dan hasilnya bumi semakin penuh warna dengan masalah asmara terlarang hehe..
Tetapi ia berhasil membuat bumi ini penuh dengan warna..
Hohoho.. pikiranku mulai gila..
Pikirku cupidlah yang menentukan jodoh bagi semua orang
Kalau cupid itu adalah malaikat cinta yang Tuhan hadirkan untuk manusia
Aku ingin ajak dia kerjasama , Panahlah dia untuk aku hahaha..