Kraukk.com

728 x 90

my twitter

Follow g1g1kel1nc1 on Twitter
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2016

Kontes Jodoh

Terdengar riuh tepuk tangan. "Maaf, kalau mau ikutan kontes harus mendaftar." Seorang penjaga menahanku.

"Kontes apa ,Pak?" Sebab meriah sekali kedengarannya.
"Kontes Jodoh. Daftar saja di sana, bawa juga pasanganmu." Aku melihat antrian panjang calon peserta kontes.

Uh, bagaimana mau ikut saat ini aku dan Umbul sedang perang dingin. Ada perasaan iri melihat antrian calon pasangan yang akan ikut audisi. "Bawa saja pasanganmu ke sini. Masih ada waktu sampai akhir minggu ini." ucap Pak Satpam lagi sebelum aku meninggalkan tempat itu.

##
Aku terharu bahwa kami bisa melewati tantangan disetiap audisi. Menurut salah satu pendamping acara ini, saat duabelas besar nanti akan diliput salah satu televisi. Mendadak aku gelisah. Aku memikirkan Umbul, kekasihku.

Aku dan Koko semakin akrab. Ia teman sekolah ku. Kami bertemu lagi. Dan aku mengajak dia ikut . Entah karena hadiah perjalanan wisata dan uang yang menggiurkan kami menjadi manusia yang saling melengkapi. Seperti istilah simbiosis mutualisme , demikian hubungan kami ini. Kami tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila kontes ini akan ditonton lebih banyak orang.

Dan benar saja, kami berdua masuk dalam duabelas besar pasangan favorit. Aku dan Koko sangat antusias. Kemenangan ini membuat aku menjadi hilang ingatan akan hubungan ku dengan Umbul. Konsentrasiku kepada tujuan menjadi pemenang dari kontes jodoh ini.
##

Berita mengenai hubungan ku dan Umbul tercium media. Pihak penyelenggara mengatakan ini demi menaikan rating acara mereka. Umbul tiba-tiba muncul dengan pernyataannya bahwa ia adalah kekasihku. Aku kesal karena ia mencari kesempatan padahal posisi ku saat ini sudah masuk dalam lima besar.

Umbul dan Koko pernah terlibat adu mulut saat aku dan Koko sedang menikmati makan malam. Kami sengaja mempererat hubungan kami supaya tidak canggung bila berhadapan dengan publik atau di depan juri.

Akhirnya aku mencoba bicara dengan penyelenggara acara ini. Aku rasanya hendak mengundurkan diri. Namun tanpa aku sadari masalah aku dan Umbul inilah yang menurut mereka menjadi daya tarik emosi penonton acara ini. Mereka mendukung aku dengan Koko daripada bersama Umbul.

Ajaib bagiku Umbul dapat aku ajak bicara. Di tayangkan di televisi pula. Aku malu sebenarnya harus menyelesaikan masalah ku ini ditonton sejuta pasang mata. Kami berdua akhirnya mengikhlaskan perpisahan kami.
##

Lucu rasanya kalau aku jatuh cinta dengan Koko. Aku tidak sadar kapan aku telah menyukainya. Mungkin perjalanan kontes ini membuat aku tergerak hati  menyukai dia.

Pada saat semi final berlangsung dan pengumuman pemenang akan dibacakan, dari arah penonton ada seorang wanita maju ke arah panggung. Ia sedang mengandung. Dan ia ternyata istri Koko. Aku tidak sadarkan diri lagi.
##

Umbul mengelus keningku sambil berbicara denga beberapa orang yang tidak ku kenal. Ia dengan sigap membantu aku duduk.

Aku mulai sadar, ternyata aku pingsan saat mengantri formulir pendaftatan kontes jodoh. Pak Satpam yang menolong dan memberitahukan info itu juga ada di dekat Umbul.

"Apa kamu sudag lebih baik?" tanya Umbul cemas. Aku diam memandangi dia. Di tangan Umbul ada berkas formulir. "Nih, aku sudah mengisi lengkap. Kita bisa ikut, kalau kamu tidak keberatan."

Aku mau menangis senang. "Aah Umbul, kamu baik sekali." Rupanya Umbul mencari aku sejak kami ribut di toko baju itu. Dan kini ia akan ikut kontes jodoh ini. Semoga kami menjadi pemenang. Aku bahagia sekali. Umbul terima kasih.

Cerpen
By Veronica Setiawati

Selasa, 22 Maret 2016

Arbey - 2

Arbey menghentikan usaha bunuh dirinya. Ia menatap pria yang berdiri di depannya.

"Biarkan aku mati!" tangis Arbey karena pria itu datang dan melepaskan pecahan kaca itu dari tangannya.

"Apa kamu tega membiarkan ibumu ini menangis dalam kuburnya melihat perbuatan bodohmu?" Arbey terdiam dan hanya mengusap tanah pusara dengan tangannya.

Pria itu adalah tetangga Arbey. Ia datang bersama ibunya. Dengan terbata-bata Arbey menceritakan apa yang terjadi padanya.

Sejak pertemuan itu pria yang bernama Hardy itu mulai dekat dengan Arbey. Hari demi hari mereka menjalani hubungan mereka secara sembunyi. Mereka takut, terutama Arbey dengan statusnya dan terlebih kepada ayahnya.

Sampai suatu hari niat Hardy untuk melamar Arbey tak sanggup lagi ia sembuyikan. Ia menemui ibunya dan memohon bantuannya untuk meminang Arbey menjadi istrinya.

"Kamu yakin dengan keputusanmu itu?" tanya ibunya. "Kamu sudah pertimbangkan dengan matang ,Nak?" Hardy menyatakan siap. Ibunya tidak bisa bertanya apapun kepada anak lelakinya itu.

**
Istri ayah Arbey masuk ke kamar dan  dengan paksa ia membangunkan Arbey yang sedang tertidur. "Maaf, Bu. Badanku lemas hari ini."

Istri ayah Arbey pun tidak menunjukkan rasa belas kasih kepadanya. Ia terus memaksa Arbey untuk bangun dan segera melakukan tugasnya di rumah. Ancaman akan diadukan kepada sang ayah membuat Arbey terbangun, walaupun hari itu ia sangat mual.

Arbey tidak ingin ada keributan karena dirinya, diantara ayahnya dan istri barunya itu. Setiap hari sejak dipulangkan oleh mantan suami, Arbey membantu usaha warung milik ayahnya itu. Karena modal dari mantan suaminya yang cukong itu, kini ayahnya membuka sebuah warung kecil.

Pengunjung warung kecil itu semakin hari semakin banyak sejak Arbey tinggal di rumah. Terlebih sejak Arbey kembali ke rumah itu. Para lelaki terutama, sangat ingin dilayani oleh dia.

Sejak kembali ke rumah juga Arbey mengetahui perselingkuhan ibu tirinya. Selama ini tanpa diketahui oleh ayahnya , istrinya itu memiliki hubungan dengan pria dari luar desa. Orang tersebut biasa membawa barang-barang untuk kebutuhan warungnya. Dengan mobil bak terbuka, ia selalu mengantarkan pesanan seminggu dua kali.

Tanpa sengaja, suatu hari Arbey  memergoki mereka di dapur sedang bercanda mesra layaknya anak remaja yang dimabuk cinta. Arbey menyimpan rahasia itu dan berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan ayahnya.

Namun naas hari itu, Arbey benar-benar tidak bisa sembunyikan lagi perbuatan mesum mereka. Arbey menyiram mereka berdua dengan air bekas ngepel lantai. "Keterlauan kalian berdua!" teriak Arbey dan membanting ember dekat tempat tidur.

Laki-laki itu yang baru telanjang dada itu panik dan segera berlari dan membekap Arbey. "Kurang ajar kamu, ya. Berani kamu melawan saya?"  Suaranya berburu dengan napasnya ditelinga Arbey.

Istri ayah Arbey segera menutupi tubuhnya dengan pakaiannya. "Apa yang harus kita lakukan?" Arbey terus meronta berteriak mi ta tolong. Ia berusaha supaya dapat lepas dari cengkaraman tangan mereka.

"Diaaam!" teriakan keras ibu tiri seakan ingin menelan Arbey. Matanya menatap tajam ke mata Arbey. Mulut Arbey dibekap oleh tangan si pria itu dan ibu tirinya berusaha sekuat tenaga untuk mengikat kaki dan tangannya. Arbey semakin kuat memberontak.

Mereka semakin panik takala terdengar suara tamu yang datang ke warung mereka. Ibu tirinya menemui tamu tersebut. Ia bersikap tenang melayani apa yang mereka beli tanpa menimbulkan curiga apa yang sedang terjadi di dalam rumahnya.

Arbey berusaha untuk untuk melepaskan diri namun tenaga lelaki itu lebih kuat menyeretnya ke dapur. Bunyi gaduh di dapur sempat menimbulkan pertanyaan tamu pembeli warung.

"Mungkin ada kucing berkelahi. Mau belanja apa, Bu?" Ibu tiri Arbey berusaha untuk mengalihkan dengan terus mengajak ngobrol di jalan depan rumah. Selesai melayani tamu itu, ia tak mendengar lagi suara. Segera ia berlari ke belakang. 

Arbey tergelak di lantai dan darah segar keluar dari kepalanya. Dan ada bercak darah juga mengalir ke kaki putihnya. Lelaki itu hanya bersimpuh di sisi tubuh Arbey yang tak bergerak. Meja kursi bergeser dari tempatnya, pecahan botol dan piring gelas di atas meja jatuh berantakan.

Pipi pria itu berdarah terbeset benda tajam. "Dia terpeleset dan membentur tembok. Dia sempat memukul kepalaku dengan botol ini." Ia menjelaskan dengan nafas tersengal.

"Apa dia mati?" tanya ibu tiri Arbey panik lalu mengecek jarinya di bawah lubang hidung gadis muda itu. "Kang, cepat kita singkirkan dia. Jangan sampai Ayahnya datang. Bisa dihabisi nyawa kita."

Mereka mulai membagi tugas. Dibereskan segala yang berantakan di dapur. Warung juga di tutup. Dibungkusnya tubuh Arbey dengan kain. Setelah itu , ia membereskan air yang berceceran di kamar tidur depan.

Pria itu mengambil kendaraannya yang biasa dipakai untuk anteran barang. Kini mobil itu di parkir dekat dapur. Biasa dilakukan bila ada yang retur barang. Sebentar beberapa orang lewat dan mereka saling bertegur sapa.

Setelah dilihat kondisi aman, tubuh Arbey dibawa dan di letakkan di bak belakang , ditutupi kain dan barang. Mereka mencari tempat yang sepi untuj membuang tubuh itu.

**
Hardy telah siap malam ini untuk datang menemui calon istrinya. Ia telah mempersiapkan batinnya bertemu dengan calon mertua. Ibunya pun turut mendampingi niat baik anaknya tersebut.

"Pak, Arbey tidak ada!"teriak panik Istrinya itu. " Memangnya kamu tidak tahu ke mana dia pergi?" Ia sedang memulai cerita kebohongannya. Arbey pergi karena dirinya tidak bisa menerima kehadiran ibu baru, pengganti ibu kandungnya. Kata makian keluar deras dari bibir ayah Arbey mengetahui alasan anak perempuannya itu pergi dari rumah.

Mimpi indah jejaka itu akhirnya kandas. Ibunya memandang iba kepada anak lelakinya itu. Ketika di dengarkan calon istrinya pergi. Ada rasa tidak percaya yang dirasa janggal dari ucapan suami istri calon mertuanya.

"Di mana Arbey? Tidak mungkin dia seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Hardy sepanjang perjalanan menuju rumah.

** Kira-kira apa yang terjadi ya selanjutnya?? Semoga saya bisa ketemu ide lagi untuk melanjutkan cerita ini hehe..

Coretan by : Veronica Setiawati
@g1g1g1kel1nc1

21 Maret 2016

Sabtu, 19 Maret 2016

Arbey

Arbey adalah seorang gadis yang hidup di sebuah desa yang sangat miskin. Arbey selalu membantu ibunya untuk mencari rejeki demi makanan sehari-hari. Ia bersama ibunya yang selalu berusaha sedangkan Ayahnya hanya sibuk dengan kumpulan di desanya.
 
Tiap kali ayah Arbey pulang kumpul-kumpul, bila tidak didapatinya makanan di atas meja, ia mengamuk. Ia memaki ibu Arbey dan memecahkan segala yang ada disekitarnya.
 
"Istri macam apa kamu! Tidak bisa melayani suami." Setelah puas memaki, ia pergi keluar dan sore menjelang malam baru kembali. Atau bisa juga dua hari baru kembali.
 
Ibu Arbey sepertinya sudah terbiasa menerima perlakuan kasar suaminya. Ia selalu menanggap dirinya yang salah atau ceroboh sehingga suaminya bersikap seperti itu. Arbey iba kepada ibunya dan menyimpan kemarahan besar kepada ayahnya. Suatu hari, ibu Arbey sakit parah. Dan karena ibunya butuh berobat, Arbey mencari ayahnya.
 
Arbey berhasil menemukan ayahnya di sebuah kedai minuman. Ia sedang ditemani seorang perempuan lain.  "Ayah, pulang. Ibu sakit parah."
 
"Hei Mahmud, anakmu datang!" teriak seorang pria dalam kedai itu. Pria yang adalah ayah Arbey itu menoleh.
 
"Kenapa? Ibumu sakit? Biar dia mati sekalian. Aku sudah ada pengganti ibumu disini."
 
Arbey dengan sedih meninggalkan ayahnya yang tidak perduli dengan ajakannya. Samar Arbey mendengarkan mereka tertawa yang membuat Arbey semakin benci kepada ayahnya.
 
"Hai Mahmud, anakmu cantik. Jadikan aku suaminya."
"Sembarangan! Bukan dengan situ calon mantu.. Anak orang kaya yang pastinya. hahaha." Mereka semua tertawa tanpa memperdulikan perasaan seorang anak gadis yang merasa direndahkan.
 
Arbey hampir tak dapat bernafas ketika dilihatnya bendera kuning di depan rumahnya. Para tetangga telah berdatangan di rumah yang sangat sederhana itu.
 
"Ibuu!" teriak Arbey di depan jenasahnya. Ibu-ibu yang sedang membacakan ayat-ayat suci ikut meneteskan airmata melihat kepedihan hati anak gadis itu.
 
"Ibu jangan tinggalin Arbey. Arbey takut sendirian." isak Arbey. Seorang ibu yang terharu melihat kesedihan Arbey memeluknya dengan hangat.
**
Arbey mengunjungi makam yang dua tahun ini tidak ia kunjungi. "Maafin Arbey, Bu. Arbey sangat lama pergi."
 
Arbey mencabuti rumput yang memenuhi makam orang yang sangat disayangi itu. Arbey meletakkan kepalanya diatas nisan. "Ibu, Arbey kangen ibu".
 
Rupanya sejak ditinggalkan ibunya, Arbey mencoba melarikan diri dari ayahnya. Ia meminta secara paksa supaya Arbey menikah dengan cukong kaya.
 
" Ayah aku tidak mau. Aku masih ingin sekolah." rengek Arbey memohon belaskasihan.
Ayahnya tetap pada pendiriannya dan tidak perduli permohonan anaknya itu. Arbey akan dijadikan sebagai istri keempat cukong kaya itu.
 
Hari yang ditentukan tiba. Arbey tak bisa melawan kehendak ayahnya yang sudah menerima bayaran pernikahan tersebut. "Aku percayakan anak gadisku padamu Boss." Ia tertawa senang karena men dapatkan jumlah yang banyak.
 
"Pokoknya saya maunya beres. Tolong kamu atur pernikahan ini seminggu lagi."
Jadilah hari pernikahan itu , Arbey duduk di pelaminan pada pernikahan yang tidak dia impikan. Arbey ingin berlari tetapi ayahnya terlalu kuat menahannya. Arbey seperti sapi perahan ayahnya untuk mendapatkan uang dengan cepat.
 
Arbey memang menjadi istri yang paling dimanjakan oleh cukong kaya itu. Hal ini yang membuat para istri lainnya cemburu padanya. Ada saja perlakuan yang ditujukan mereka kepada Arbey. Kekerasan verbal terutama sering mereka lontarkan. Sampai pada suatu hari mereka membuat kesepakatan untuk menyingkirkan Arbey.
 
Mereka membuat skenario layaknya membuat film, bahwa Arbey pergi dari rumah tanpa pesan. Ia menceritakan pada suami mereka kalau Arbey sudah memiliki laki-laki lain.
Ternyata berhasil , sang cukong itu percaya dan mencari Arbey serta pasangan selingkuhnya itu. Mereka diadili oleh anak buah di depan cukong itu.
 
"Saya tidak kenal laki-laki itu,Pak. Saya difitnah."kata Arbey menjawab tuduhan yang tidak sebenarnya. Tetapi tekanan dari para istri cukong itu semakin menyudutkan Arbey hingga suaminya memutuskan menceraikannya.
 
Arbey dikembalikan kepada Ayahnya. Namun, bukan kasih sayang dan pelukan hangat yang ia dapatkan melainkan caci maki dan tamparan yang ia terima. "Dasar bodoh! Seharusnya kamu bersyukur dapat suami yang kaya. Ini malah bertingkah. Mau apa kamu sebenarnya?"
 
Arbey menangis , jiwanya ketakutan bercampur marah. Ia tak bisa melawan hanya mampu memukul lantai kuat-kuat sebagai bentuk protesnya atas hidup yang gila ini.
 
Dan di makam ibunya ini, Arbey berniat untuk menyusul ibunya. Namun, niat itu dicegah oleh seorang pria yang kebetulan juga berada di situ.
 
Siapakah laki-laki itu dan apa yang terjadi pada Arbey selanjutnya? Tunggu dan saksikan lain waktu. 
Arbey..
 
Coretan by : Veronica Setiawati
@g1g1kel1nc1
19 Maret 2016

Jumat, 18 Maret 2016

WAJAH

Tuanku,
Apa yang terjadi?
Wajahmu penuh dengan darah.
Aku tertegun melihat wajahmu
Darah, mahkota duri, palang kayu ?

Tuanku,
Kau dipukuli oleh para prajurit itu
Mengapa mereka tega berbuat seperti itu kepadamu?

Tuanku,
Aku pernah merasakan dipermalukan karena penyakitku
Aku dianggap najis bahkan oleh keluargaku sendiri
Tetapi engkau tidak mempermalukanku.
Justru engkau telah membuatku hidup.
Mengapa kini mereka mempermalukanmu?

Tuanku,
Hati pedih, engkau bukan pemberontak
Engkau datang menyelamatkan nyawaku

Tuanku,
Aku kini dihadapanmu.
Ingatkah engkau padaku?
Aku yakin begitu.
Karena matamu mengatakannya.

Tuanku,
Izinkanlah aku menyeka wajahmu.
Mungkin ini tidak sebanding dengan kerahimanmu padaku.

Tuanku,
Engkau meninggalkan wajahmu
dalam kain ini.
Engkau menghadiahi aku wajahmu.


coretan by ; veronica
Jalan salib perhentian ke - 06 ( Wajah Yesus di usap oleh Veronika )
Foto : credit to Romo Josh Kokoh


Jkt , 18 Maret 2016

veronica setiawati
@g1g1kel1nc1


 

Minggu, 13 Maret 2016

Aku dan Keponakanku - Janjian

Ketika di sebuah restauran Dunkin Donat.

"Selamat malam,bu. Mau pesan apa?" tanya petugas restoran itu ramah. Aku tidak menjawab tetapi menanyakan kepada ponakan aku yang hampir berusia lima tahun.

"Kamu mau pesan apa , El?" Aku celingukan ke sana ke mari karena melihat bocah lelaki yang bernama lengkap Rafael itu sedang sibuk memilih kursi untuk kami duduk.
"Teh aja deh Pe."jawab dia akhirnya. Oke, akhirnya aku memilih paket 2 yang berisi satu donat dan satu teh untuk dua orang kepada petugas restoran itu.

"Makan disini bu?"tanyanya lagi. Aku mengangguk karena perhatianku terbagi antara memperhatikan Rafael, memesan makanan, dan menelpon calon pembeli scanner yang janjian bertemu malam ini.

"Ini bu, semuanya 48.000"kata petugasnya itu. Dan aku mengeluarkan uang lembaran 50.000 rupiah.
"Silakah dipilih tehnya bu." Ia menunjukan box di pinggir meja kasir yang berisi bungkusan teh celup dengan berbagai varian rasa. Aku mengambil teh yang berbeda, itu pun asal ambil.

Setelah transaksi di kasir selesai, aku dan Rafael duduk di tempat yang dipilih. Dekat jendela, sehingga aku dapat melihat orang yang akan menemui itu. Dua cangkir dengan air hangat sudah di hadapanku. "Pe, aku mau minum tehnya. Mana tehnya?"tanya Rafael. "Oke tunggu sebentar." jawab ku lalu memisahkan cangkir dia beserta bungkus teh yang aku ambil.

"Bagaimana dibukanya Pe?"tanya dia lagi. "Begini dibukanya." Aku hanya menunjukan posisi robekannya dan membiarkan dia membuka bungkusan itu sendiri. "Nah, teh celupnya dimasukan ke dalam air ya." Lalu dia berteriak, "Pe, warnanya berubah." Aku hanya tersenyum geli dan sambil mencoba untuk menghubungi orang yang janjian dengan memperhatikan tingkah lucu dia yang mengaduk air teh itu dengan sendok kecil yang disediakan restoran itu.

"Pe, ngga manis tehnya." Aku pura-pura terkejut "Ah, masa? hmm.. ini gulanya." Aku menunjuk salah satu gulungan kertas yang berisi gula sebagai pemanisnya. Lagi-lagi dia bertanya bagaimana merobeknya , karena begitu gulungan kertas itu dimiringkan ke dekat cangkir, tidak ada satu gula pun yang keluar.

Sesaat dia terdiam, aku heran "Kenapa? Tehnya kurang manis, ya?" Dia hanya bilang "Ngga apa-apa. Aku tadi makan gulanya , Pe" Setelah itu dia mengaduk lagi dan mencicipi tehnya dan berkata, "Hmm.. enaak.." Hahaha.. aku benar-benar dibuat tertawa geli oleh tingkahnya.

Aku teringat donat yang aku pesan. Satu donat aku taruh di atas piring yang memang untuk dia. Aku meletakkannya di hadapan dia. Di tangannya sudah memegang pisau potong bergerigi untuk donat dan garpu. "Coklatnya habis ya de, adanya strawbery saja." Dia memotong-motong donatnya dengan caranya dan aku tetap mengawasinya serta membantunya untuk memotong. Aku berikan potongan donat itu untuk dia makan.

"Ini apa Pe? Ager-ager strawbery ya?
"Iya." Agak susah untuk memberikan dia makan. Apalagi yang aneh menurut dia , langsung tidak dilanjutkan lagi.  "kenapa ngga dimakan?"
"Keras Pe dalamnya. Begitu aku perhatikan, itu karena jely yang di dalam donat. Kurang begitu lembut seperti ager-ager.

Pesan Whatsapp saya mengatakan orang itu sudah di sekitar tempatku berada. Aku memintanya untuk masuk. Dan kami akhirnya bertransaksi di dalam restoran. Rafael ikut nimbrung melihat aku dan orang itu mengadakan transaksi dan dia mengecek barang. Setelah selesai , Rafael bertanya,"Pe, itu dijual ya?" Karena dia melihat aku membawa barang itu , dia memberikan uang dan kemudian berpindah tangan. "Iya Rafa, dijual. Pepey janjian sama orang itu disini."

Setelah kami kembali ke tempat duduk, dia tidak lagi melanjutkan makanannya dan minumannya. "Ya sudah , kamu cuci tangan sana di situ." aku menunjuk wastafel di pojok ruangan.
"Pe.. ngga ada sabunnya."celoteh kecilnya menghentikan suapan donatku. Aku berdiri dan menolong dia untuk cuci tangan.

"Coba tangannya diletakkan agak ke bawah. Pepey pencet ini ya." Dan dalam sekejab mata tetesan sabun sudah di tangan kecilnya. Air keluar dari kran wastafel dan tangan Rafael kecil telah dicuci dengan sabun. Selesai itu di bilang begini : "Pepey.. aku udah kenyang. Kamu aja ya yang habisin."

Gubrak deh. Air teh masih secangkir di tambah air teh dan dounat Rafael yang tersisa. Belum juga selesai makan, dia sudah berkata,"Cepet Pe, papa aku udah nungguin di depan." Astaga nih anak. Aku membereskan piring, gelas dan sampah dalam satu nampan yang tadi aku bawa. Dan selesai , aku melihat Rafael berdiri sedang memegang kerai jendela. Sampai aku mengabaikan salam dari penjaga restoran tadi. Soalnya dia lihat aku sudah selesai dan siap untuk meninggalkan tempat.

donat. ilustrasi ini
"Itu apaa Pe?"tanya dia sambil menunjukan sebuah kerai di jendela. Eeh, ada aja alesannya katanya tadi cepetan.

"Itu Kerai namanya. Itu untuk menutup jendela atau supaya ngga kepanasan kalau kena sinar matahari." Lalu dia menjawab.
"Sekarang kan malem Pe, ngga ada sinar matahari."
Aku tidak bisa jawab lagi. Aku bawa nampan itu ke petugas restoran dan menjawab terima kasih.

"Buat apa Pe itu?" eh dia masih tanya lagi.
"Buat tutupin jendela kalau lagi makan." akhirnya itu deh yang aku jawab.Tapi dia masih bengong melihat benda itu. Mungkin karena ada tali, dia mikir bagaimana bikin turun naiknya itu benda. Soalnya dia pegang-pegang terus itu talinya.

"Heh, Kamu ngga rusakin kan?" aku tanya balik. "Ngga apa-apain."jawab dia sambil melepas tali itu.
"Ya sudah, kita pulang ya." Aku memperhatikan posisi kerai itu. Takut tanpa sepetahuanku tangan kecil Rafael iseng melaukan sesuatu hingga merubah posisinya.

Setelah tidak ada yang berubah, lalu aku menggandeng tangan kecilnya keluar menuju parkiran sebab papanya dia sudah menunggu.



by : veronica setiawati
@g1g1kel1nc1
 

Rabu, 09 Maret 2016

Cerita Saja : Antara Uang Receh, Kue dan Ibu Kepo

Dari Mesin ATM , keluar struk kertas atas sebuah pembayaran yang telah dilakukan di salah satu bank. Tapi gue teringat akan sesuatu "ya Ampun, kan ga ada ongkos untuk angkot."  Gue hanya teringat seorang teman telah mengembalikan duit yang telah dipinjamnya sebesar Rp 50.000, tapi belum dipecah beberapa lembar untuk ongkos kendaraan umum.

"Ah ada yang jual kue, kebetulan waktu itu gue belum sempat cobain salah satu kue yang ada disitu, mudah-mudahan masih ada. Sekalian pecahin duit 50.000 an nya" Lalu gue bergegas ke sebuah tempat di dekat eskalator naik sebuah tempat perbelanjaan. "mba, ini isinya apa?" sambil menunjuk ke salah kue yang memikat hati.

"Oh ini isinya daging sapi, mayonaise dan keju.Harganya 5.000"
"Kalau ini mba?" tanya gue lagi menunjuk kue yang satunya , namun bentuknya lebih panjang. "Kalau ini , isinya hanya daging sapi dan mayoinase. Harganya Rp 4.200"

Ternyata, sedari tadi itu ada seorang ibu yang mondar mandir di depan tempat jualan kue ini tetapi dia malu bertanya. Duh gengsi atau apalah yang ada dipikirannya. Begitu melihat gue mendekati dan bertanya-tanya kue , eeh ibu itu ikut bertanya dan ikut membeli kue yang gue beli.

Gue menyadari hal itu dan kue yang berisi keju sedikit lebih mahal ,  karena memang tinggal dua. Sedangkan si ibu itu membeli yang tanpa keju dengan sedikit cemberut. Mungkin dia mau juga membelinya tapi sudah keduluan gue, hihi..

Kemudian mba yang jualan kue menuntun gue membayar ke kasir yang ada di tengah lobbyl. Eehh si ibu mengikuti juga dari belakang, seakan sok tahu kalau tempat pembayarannya dikasir. Dia langsung nyerobot gue. Aduh.. sepertinya budaya antri juga perlu deh saat membayar makanan.

Padahal gue berani taruhan , kalau si ibu ini pasti tidak tau kalau dia beli kue itu bayar di mana? . Selesai membayar, struk pembayaran yang putih dan merah diserahkan kembali ke tempat jualan kue dan dikasih deh kuenya. Dan gue ngga tau lagi cerita si ibu itu.

Kuenya memang enak,rasanya manis karena mayoinase dan ada rasa acarnya. Selain itu potongan tipis daging sapi dan keju hmmm... semakin lezatnya kue ini. Lumayan untuk cemilan selama perjalanan menuju pulang.


Karena sore itu jalanan di depan mall itu sangat ramai kendaraan dan macet. Dan gue gak perlu takut kawatir lagi menunggu lama kembalian dari supir angkot , karena uangnya sudah di pecah menjadi lembaran lima ribuan. Dan satu lagi gue gak dapat omelan lagi dari supir angkot karena tidak punya kembalian.

 strory by
veronica setiawati
@g1g1kel1nc1

Selasa, 18 November 2014

( cerpen ) Pada Satu Cinta..



Aku telah mempunyai kekasih. Walaupun dia jauh diseberang sana tetapi aku tetap menjaga hubunganku tetap baik dengannya. Aku berusaha semampuku untuk tidak mengecewakan dia. Atau pun mendengar sesuatu yang buruk tentangku , apapun itu termasuk mungkin berita tidak sedap mengenai kedekatanku dengan wanita-wanita di tempat baru ku ini.

Tujuanku datang ke kota Jakarta hanya untuk bekerja dan aku juga ikut dalam sebuah pelayanan di gereja. Namun di tengah-tengah kejenuhan hidupku, aku bertemu dengan seorang wanita. Tiba-tiba aku lupa dengan dia yang disana, aku lupa diriku dan berusaha untuk mendekati wanita yang mempunyai senyum yang manis.

Kami sama-sama dalam satu pelayanan , jadi setiap minggu ketika dia bertugas saya selalu melihat dia. Suatu hari… “Hai” sapanya. Degh , rasanya tidak percaya dia menyapaku. Aku semakin penasaran dengannya.
Saat bersamaan, dia calonku yang ada diseberang sana menghubungi ponselku. “Mas, kamu tidak pernah lagi menghubungiku? Sibuk , ya?” sebuah sms masuk saat pikiranku juga sedang memikirkan wanita itu. Ada rasa bersalah menyelinap dan malam itu , aku tidak bisa tidur. Muncul pikiran supaya apa yang aku rasakan kepada wanita itu tidak usah berlanjut.

Pada akhirnya kesempatan itu datang, entah memang semesta alam membaca dan turut merestui niatku ini. Aku berkenalan dengan wanita itu, dia ramah, periang, dan tentu punya senyum yang manis. Aku suka dengan karakter yang ada padanya. 

Kemudian aku berbicara dan berkenalan dengannya lewat sms, dia juga wanita yang cerdas, punya daya juang akan hidupnya, juga keras dan sedikit ketus. Beberapa kali aku mencoba untuk menanggapi sms nya dengan biasa dan selayaknya berteman. Memang aku menangkap bahwa wanita itu tertarik kepadaku dan memancing rasa tertarikku juga padanya. Namun, aku tidak bisa karena ada wanita lain yang akan menjadi calonku.

Aku tidak bisa mengatakan terus terang kepadanya, aku hanya ingin dia “membaca” pesanku dan mengerti kalau aku tidak bisa membalas perasaan suka yang dia tawarkan kepadaku. Aku tidak ingin menyakitinya tetapi aku telah membuatnya kecewa. Yah kecewakan dia dengan mencoba menghindar darinya. 

Suatu hari di saat pelayanan kami bertemu lagi. Ada yang berubah dan aku tidak mendekatinya. Tetapi aku menjadi malu, saat dia masih mau menyapa aku seperti biasa. Aku menyesal telah mengecewakan dia walau mungkin kata-kata makian tidak keluar dari bibirnya yang ramah. Tetapi sikapnya telah cukup menampar egoku. 

Sekarang, aku berharap dia dapat menemukan pria yang benar-benar dapat menerimanya. Dan aku banyak belajar dari kejadian ini , entah kenapa aku sangat rindu kekasihku di sana. Apa kabar dia selama aku tidak ada disampingnya? Masih setiakah ia padaku. Ku raih ponselku “Hallo sayang…”

**
PS : dari penulis .. jadi inget lagunya Glenn Fredly 
Masihkah mungkinKu kembali tuk mengisi harimu
Yang jelas hatiKu tak lagi sanggup jauh darimu

Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Harus kumiliki
Kesempatan tuk menyayangmu lagi
Chorus:
Aku kan berjanji
Takkan mengulang segala kesalahan
Aku kan mengabdi
Pada satu cinta dan itu dirimu
Jujur ku hanya seorang lelaki
Yang terkadang tak lepas dari goda

Kulihat kau ragu
Adakah yang telah mengganti aku

Jakarta, 18 November 2014
Penulis
Veronica Setiawati

Rabu, 17 September 2014

( Tulisan Fiksi ) Dari Mata Turun Ke Hati :D



Entah awalnya seperti apa, hingga sepasang mata itu menatap ku sangat dalam. Sungguh aku tidak ingin membalas tatapan dari seorang pria. Tidak tepat saja buatku. Bayangkan , di saat pikiran dan hatiku untuk melayani Tuhan di seputar altarNya, tanpa permisi sepasang mata itu seperti lalat yang mengangguku.


Aku tidak mengenalnya dan untuk apa membalas tatapan tajam yang seakan senang membuatku menjadi salah tingkah.  Tiba-tiba hatiku menjadi kesal, “Ooh Tuhan Yesus, ampuni aku, sebentar lagi Misa dimulai dan  aku mau tugas.Karena masalah kecil ini , tolonglah semoga kemauanku untuk melayaniMu tidak pudar.” 


Waktu itu Misa Jumat Agung akan dimulai , persiapan sudah aku lakukan supaya aku bisa menyelesaikan tugas ini. Petugas liturgy sudah siap di sakristi dan aku pun siap untuk tugas pelayanan.  Dan aku bertugas bersama dengan Prodiakon muda, yang entahlah menurut banyak orang , dia juga adalah seorang Frater. Namun tatapannya itu , dia telah mengganggu hati aku.

===========
Dan saat ini, keadaan menjadi membuatku terdiam. Kami akhirnya malah dekat. Aku mencoba eksamen diriku sendiri. Memeriksa batinku dan melihat kembali perjalanan aku dan dia. Ada yang aneh, kenapa kekesalanku berubah dan membuat kami dekat?  Setiap kali aku tugas pada sat Misa dan dia juga hadir, seakan aku ingin pura-pura tidak melihatnya. Pandangan matanya itu mengganggu tetapi membuatku ingin menatapnya. 

Aku masih ingat hal yang membuatku berubah dan sampai membuatku “terpaksa” menegurnya selalu. Mungkin akan terkesan konyol bila aku ceritakan, yakni karena mengucapkan salam “Haii!!” , alasannya : pertama karena kaget melihat dia dibalik pintu sakristi yang tiba-tiba menyalamiku, kedua karena aku sudah beberapa kali tugas atau misa tidak melihat dia dan akhirnya keluarkan sapaan itu kepada.

Dan sejak itu , karena tidak enak sudah terlanjur berucap , jadilah setiap kali kami bertemu saling mau tak mau harus menyapa. “Haii..” atau senyuman manis dan kalimat basa basi lain. Tetapi jadinya , aku malah terjebak dengan perasaanku sendiri.  

Aku tidak menyalahkan ataupun kesal akibat “keterpaksaan” yang aku buat ini. Karena lama kelamaan aku melakukannya dengan tulus karena memang ingin menyapanya atau sekedar bicara. Pikirku, kami sama-sama satu pelayanan , rasanya jadi aneh kalau tidak saling mengenal.  

Entahlah bagaimana kelak perjalanan cerita ini , namun sejak itu hidup kami pun berubah..

#untuk yang sedang suka dengan seorang frater# :)

Penulis  
Veronica Setiawati

Jumat, 31 Agustus 2012

Cerpen : Sekotak Cerita Masa Lalu


Malam itu Tina tidak dapat memejamkan mata. Tidak sengaja matanya memandang sebuah kotak dekat lemari di kamarnya. Kotak tersebut masih tertutup rapi , tetapi sedikit berdebu.Tina menghampiri kotak tersebut dan membukanya.

Ada buku diary dengan cover warna pink. Kertas-kertasnya sudah hampir terlepas, lalu ada kaset-kaset pita, kertas surat beserta amplopnya, dan gambar-gambar pin atau stiker masih lengkap di dalam kotak tersebut. Tina tersenyum simpul , membayangkan kotak ini merupakan kumpulan dari cerita masa lalunya serta barang-barang koleksinya dahulu.

Sebuah foto keluar dari balik lembaran buku diary yang dia pegang. Fotonya dan teman-teman semasa sekolah. Dahulu mereka berlima, perempuan semua dan selalu bersama. Namun ketika sekolah usai, mereka entah ada dimana. Tiba-tiba , seperti diulang kembali, keceriaan mereka berlima sewaktu sekolah. Kegaduhan yang pernah mereka buat sehingga mereka dihukum guru. 

Pun ketika mereka berlima berburu kaset dari sebuah grup band yang sangat terkenal. Mereka mengkoleksinya tanpa satu albumpun yang terlewat. Setiap gossip bahkan pacar-pacar tentang group band tersebut tidak pernah ketinggalan. Persahabatan yang kuat bukan hanya dalam suka tetapi juga saat ada kemalangan dari salah seorang diantara mereka. Spontan  mereka tak segan-segan mereka saling membantu dan mengunjungi. Hidup saat itu sangatlah indah, karena persahabatan tersebut.

Tangan Tina membuka tiap lembaran dari diarynya. Tina membaca kembali kisahnya yang pernah dia tulis. Ketika dulu ia kecil, setiap Natal tiba , seluruh keluarga berkumpul berdoa bersama sepulang gereja. Tina , teringat juga masa kecilnya selalu menyediakan waktu untuk menuliskan permohonan kepada santa claus. Walaupun akhirnya permohonan itu takpernah terwujud dan Santa Claus tak pernah hadir.

Di diary itu juga bercerita, Tina pernah menyukai tetangganya yang ganteng rada bule, mirip banget dengan salah seorang personil group band yang ia sedang idolakan. Kalau bertemu dengannya , ia selalu takut. Ada yang aneh dengan hatinya jika melihatnya. Kalaupun sedang berpapasan dengan lelaki itu, Tina jadi tidak berdaya dan hanya bisa tersenyum saja padahal sudah banyak kata yang ia siapkan. Tetapi sampai dirumah, ia selalu mengintip dari jendela sekedar melihat rumahnya serta mengawasinya. 

Hatinya menjadi sedih, ketika lelaki itu mempunyai pacar lalu menikah. Tina hanya bisa menangis diatas loteng tempat biasa ia menyendiri. “Sedih Tuhan, saya kan suka dengan kakak itu, tetapi sekarang dia dengan orang lain.” 

Tina menangis menumpahkan sedihnya dan juga menuliskannya di buku diarynya. Selalu itu yang ia lakukan bila mengurangi rasa sedihnya, mencurahkannya pada lembaran buku Diary.  Oleh sebab itu , ia lebih memilih menjadi penyediri. 

“Saya, tidak bisa bergabung dengan teman-teman saya. Mereka menjauhi saya, kenapa? Apa karena saya kurang cantik , kurang mampu dan tidak bisa nyambung dengan apa yang mereka bicarakan?” begitu keluh kesah Tina yang ia tuliskan di dalam Diary. 

“Tetapi semua itu berubah perlahan sejak saya diketahui bisa mengajar teman-teman bahasa Inggris, mereka jadi senang berteman dengan saya. Tidak sia-sia ayah menyuruh saya kursus. Bahkan , ada seorang anak laki-laki yang manis saat ini dekat dengan saya, seneng deh .”  Tina tersenyum simpul membayangkan kenangan yang ia tulis.

Belum lagi usai mukanya tersenyum membaca catatan hariannya, mukanya berubah ketika membaca tulisannya mengenai kakaknya. “Kenapa kakak membenci saya ya? Kenapa dia selalu bicara sinis kepada saya? Ia selalu dibela ayah, apapun selalu didahulukan kebutuhannya dibandingkan dengan saya. Kadang, saya berusaha lebih keras tanpa sepengetahuan ayah untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya merasa ayah pilih kasih. 

Kakak juga tidak pernah mau kalau saya bergabung dengan teman-temannya apalagi mengenalkannya kepada mereka. Kakak memang pintar dan saya selalu untuk meniru dia. Pernah saya jadi kesel dengan kakak kalau dia sudah keterlaluan dan pasti kami bertengkar. Tetapi selalu saya yang disalahkan.

Ibu, juga tidak terlalu membela saya, bahkan pernah saya dipukul padahal saya tidak bersalah. Untung ada kamu Diary, jadi saya bisa cerita apapun. Saya tidak bisa cerita ke siapa-siapa semuanya saya simpan sendiri. Sedih deh,  Saya pingin, suatu hari kakak bisa sayang saya.” Tanpa disadari butiran hangat terasa di pipi tembemnya.

Lalu lembaran berikutnya bercerita tentang masa sekolah, ujian dan suka-sukaan dengan seorang teman sekolah Tina. Pada saat SMA, Tina sakit parah dan harus dirawat dirumah sakit. Di situ dia merasakan perhatian keluarganya tercurah dengannya. Dia mengalami antara hidup dan mati. 

Tina pernah hampir merasakan pergi dari raganya, dan melihat cahaya putih datang kepadanya. Tetapi sebuah suara mengatakan bahwa itu belum waktunya dan tugasnya belum selesai. Sejak itu perlahan penyakitnya sembuh, tetapi tidak lama perhatian keluarga yang pernah ia dapatkan sewaktu sakit tidak ia dapatkan lagi. 

Kemudian tulisan di diary itu juga bercerita , Tina jatuh cinta terhadap seorang teman sekolahnya. Mereka berpacaran , namun hanya sebentar saja. Entah alasan apa, Tina ditinggalkan begitu saja. Susah untuk meminta penjelasan darinya yang ia ketahui selanjutnya ada perempuan lain.  Juga dengan lelaki yang selanjutnya yang jadi pacarnya hanya menjadikannya wanita kedua saja. 

“Saya merasa seperti dipermainkan. Ketika saya mengharapkan seseorang dapat mencintai saya, ternyata seperti ini yang saya dapatkan. Hanya kekecewaan dan sakit hati.Apa mereka tidak tau kalau ini sudah menyakitkan hati saya?” 

Suatu waktu ia mendapatkan seorang yang baik, yang benar-benar jadi pendamping hidupnya , tetapi , takdir berkata lain. “Saya merasa kosong dan hampa. Jika Tuhan sedang mempermainkan hidup saya, Ia berhasil. Tepuk tangan buat Nya terima kasih telah mempermainkan hidup saya!’ maki Tina di dalam diarynya kepada Tuhan.

“Kenapa saya tidak diijinkan oleh Nya untuk merasakan cinta? Di mana sabdaNya yang bilang Aku mengasihimu, dan lain sebagainya itu? Saya tidak pernah merasakan itu!”. Tak kuasa hati Tina membaca tiap kalimat yang dia tulis sendiri waktu itu. Ada perasaan bersalah. Memang sudah lama ia tidak menyentuh kotak itu ataupun mengisi diary dengan tulisannya lagi. 

Saat ini , setelah setiap kejadian yang menyedihkan menimpa hidupnya, ia hanya ingin belajar bersyukur. Benar-benar bersyukur dari dalam hati tanpa ada kemarahan dan apapun kebencian karena perlakukan orang-orang yang tanpa mereka sadari telah menyakiti perasaannya, menimbulkan kebencian di hatinya. 

Masa lalu Tina memang kelam dan tidak pernah ia merasakan bahwa dicintai dengan tulus.  Tetapi Tina tidak ingin melampiaskan apa yang ia alami kepada orang lain dan juga tidak ingin dipendam sendirian. Ia menutup kotak masa lalunya dan menyimpan semua kenangan tersebut disana. 

Toh, dari kejadian yang telah ia alami, dia banyak belajar dari pengalamannya sendiri. Menjadi kuat dan mandiri jika ada masalah. Dan dalam doanya sebelum tidur, dia memohon agar dapat berdamai dengan masa lalunya. Juga berterima kasih karena menjadi orang yang sangat istimewa karena dapat mengalami hal yang seperti itu. 

Jakarta, 23 November 2010
Veronica setiawati