Kraukk.com

728 x 90

my twitter

Follow g1g1kel1nc1 on Twitter
Tampilkan postingan dengan label jkt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jkt. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Maret 2017

Inspirasi Sang Buah Hati

Haiii...


Kembali saya hadirkan produk-produk berkualitas dan terbaik buatan dalam negeri. Semoga selalu menginspirasi produk-produk Indonesia lainnya...
* Sertifikat Halal MUI No. 00170074121015
* Garansi seumur hidup
* FDA Approved material

Produk dari Inspirasi Medina yang ketiga adalah inspirasi sang buah hati. Siapa sih, orangtua mana yang tidak akan berbuat sesuatu yang baik bagi bekal anak mereka kelak. Produk ini memahami kebutuhan ibu-ibu cerdas dalam menyiapkan bekal yang sehat bagi putra putri mereka.


3. Produk Inspirasi sang buah hati menghadirkan kepada Anda
yakni ADIA - tumbler yang dapat dibawa oleh putra putri Anda ke sekolah atau kemana pun mereka pergi tidak akan dilupakan.



ADIA mempunyai dua pilihan produk tumbler untuk boys dan girls..
** Boys Tumbler Set
Isi per set 4 pcs warna hijau biru, dan biru hijau
volume masing-masing 320ml d. 8 x 10,8 cm ( tutup biasa = 2 pcs )
volume masing-masing 320ml d. 8 x 12,8 cm ( dengan tutup Flip = 2 pcs )

** Girl Tumbler Set
Isi per set 4 pcs warna pink kuning dan kuning pink
Vol Tumber biasa masing-masing 320ml d. 8 x 10,8 cm
vol tumbler Fliptop masing-masing 320ml d. 8 x 12,8 cm
 



Pun demikian bagi keluarga yang memiliki hobi berolahraga bersama.. Hadirkan botol minuman cantik ini di tengah aktivitas keluarga Anda.
Neon Sport Bottle Set ( 3 pcs / set ) dengan warna hijau, merah dan biru.
vol 530ml d. 6,7 x 22,8 cm
Frezeer Safe
Diswashes safe



Setelah habis lelah berolah raga, pastikan bekal Anda terbawa dan siap disantap.
Portion Lunch Set hadir untuk bekal praktis Anda.
Kemasan 2 pcs dalam satu set dengan paduan warna biru dan kuning
ukuran masing-masing 1300ml 23,7 x 16,7 x 5,6 cm

Nikmati bekal Anda dengan bersama keceriaan keluarga


jadi untuk pemesanan
bisa hubungi
Instagram : @toko_oma_rafa
WA : 0813 1001 1014 / 0812 8937 5879
BBM :  5BD2ADD1

Inspirasi Kilau Ketangguhan

 
Haii..

Kembali saya hadirkan produk-produk berkualitas dan terbaik buatan dalam negeri. Semoga selalu menginspirasi produk-produk Indonesia lainnya...
* Sertifikat Halal MUI No. 00170074121015
* Garansi seumur hidup
* FDA Approved material


Sekarang saya akan akan memperkenalkan produk yang kedua.
yakni CORAL..
Dari namanya sudah terbayang kan ya? Ketangguhan coral yang benar tahan banting seperti jiwa para wanita Indonesia hehe...


2. CORAL - Inspirasi Kilau Ketangguhan
keunikannya adalah warna warni yang berkilau.

Keunggulan dari CORAL ini adalah Canister-nya. Kenapa? Toplesnya bening. Oleh sebab itu diberi nama Sparkling alias bening dan juga anti pecah ( Breakproof ). Sudah diuji dibanting dengan berbagai kekuatan tetap tidak pecah..


Coral Sparkling canister set terdapat dua type antara lain :
1. Canister Set Small , terdiri dari 3 warna dalam set nya yakni merah, biru dan hijau. Masing-masing bervolume 870ml dengan ukuran d. 10.3 x 14,7 cm.
2. Canister Set Large, terdiri dari 3 warna Merah, Biru dan hijau dalam set nya.
masing-masing vol 1070ml d. 10.3 x 17,2 cm.



Selanjutnya adalah tumbler pilihan keluarga. Cocok dipadukan dengan bawaan bekal Anda.Warna-warni yang menarik akan menambah semangat menyantap hidangan Anda.
 

*Tropic Collection
1. Snap "N Stack Lunch Set adalah rantang kecil terdiri atas 3 susun wadah dari plastik untuk membawa bekal Anda.
Keunggulan : BPA Free, Dishwasher safe, Frezeer Safe
keterangan :
Lunch box ( 3 ) + handle 1220ml 24,2 x 19,6 x 16 cm
Spoon + fork ( 3 )
 
 


2. Snap "N Shake Tumbler adalah gelas minuman yang praktis, mudah dibawa di dalam tas disertai tutup yang kuat dan membuat isi minuman Anda tidak akan mudah tumpah.
Isi 1 set terdapat 4 buah tumbler dengan warna merah, biru, hijau tosca dan hijau lemon
volume masing-masing tumbler 510ml
ukuran d. 8 x 17 cm

 
 


3. Neon Fliptop Tumbler Set , sama seperti gelas minuman hanya saja tutup atasnya menyerupai Flip yang dapat dibuka tutup dengan praktis. Terdapat tulisan dengan semangat yang positif pada tiap gelas tumblernya.. Di sisi tumbler terdapat garis ukurannya.
Isi dalam set ada 4 buah tumbler, warna merah, hijau Tosca, hijau lemon dan biru
volume masing-masing 510ml
ukuran d 8 x 19.,2 cm
 



Untuk pemesanan dapat hubungi
Instagram : @toko_oma_rafa
WA  :  0813 1001 1014 / 0812 8937 5879
BBM : 5BD2ADD1

 
 
 

Sabtu, 13 September 2014

Perjalanan Jelajah Kota Tua – Marunda, Cilincing dan sekitarnya.

Minggu cerah di akhir Agustus 2014 , saya telah bersiap untuk jalan-jalan menyusuri kota tua yang berada di utara kota Jakarta. Karena terlalu bersemangat untuk segera menjajaki  wilayah Cilincing, Marunda dan sekitarnya, saya tiba di Museum Mandiri  lebih pagi , pkl 07.00 pagi. Setelah registrasi ulang peserta, saya dan peserta lainnya segera menaiki bus yang akan membawa kami menuju Marunda. Sepanjang perjalanan banyak cerita yang disampaikan mengenai wilayah Ancol hingga Tanjung Priok.

Melihat stasiun kereta api kampung bandan yang pertama kali di buat khusus angkutan barang pada masa pemerintahan Belanda dari pihak swasta , yakni  oleh Ir.C.W Koch seorang insinyur utama dari Staats Spoorwegen (SS-Perusahan kereta api hindia belanda). Sampai sekarang, stasiun ini masih berfungsi dengan baik terutama dalam membantu pengiriman barang Jakarta – Surabaya , begitupun sebaliknya.

Kemudian diceritakan juga mengenai jalur rel kereta yang pernah ada di sepanjang jalan Ancol, yang dahulu digunakan kereta api untuk menuju Stasiun  Beos atau  Jakarta Kota , namanya sekarang ini , dari Stasiun Kereta Api Tanjung Priok.  Namun sekarang jalur tersebut sudah tidak ada lagi, bahkan rangkaian rel mungkin sudah di menjadi barang besi bekas dan sudah menyatu dengan perumahan penduduk.

Sekilas mengenai Stasiun Jakarta Kota , dikenal juga dengan nama Stasiun Beos yang merupakan singkatan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur).  Atau menurut versi lain Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken yang artinya Batavia dan sekitarnya.
Fungsi Stasiun Beos saat itu adalah sebagai pusat transfortasi kereta api yang menghubungkan Batavia dengan daerah lainnya seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), dan Karavam (Karawang) dan daerah lainnya.

Ketika melewati Stasiun Tanjung Priok yang ternyata ada di belakang halte transjakarta, di ceritakan bahwa di dalam bangunan tersebut terdapat sebuah lorong yang panjang atau istilahnya adalah bunker. Konon digunakan untuk saluran air menuju Pulau Seribu. Jika ingin memasuki , sebaiknya minta izin dengan pihak yang terkait dan perlu diketahui juga bahwa di dalam tempat tersebut tidak ada oksigen dan udara di dalamnya pun pengap.

Tanjung Priok sedang berbenah dengan pembangunan jalan tol yang pasti membuat macet lalu lintas disekitarnya. Penanaman tiang-tiang beton dan aktivitas lain dari pembangunan jalan menjadi pemandangan sehari-hari. Kemungkinan selesainya adalah sekitar tahun 2016. Kemudian pemandangan peti kemas yang bertumpuk entah yang baru turun dari kapal atau akan dikirim, dapat dilihat disepanjang jalan pelabuhan Tanjung Priok.

Marunda masih kearah jalan Cakung dan mungkin karena daerah pinggir laut jadi kesannya gersang dan panas. Setelah tiba di Marunda , kami jalan kaki melewati sebuah jembatan untuk menuju Kawasan Rumah Si Pitung. Jembatan itu dahulu terbuat dari kayu yang dirakit. Karena di dekat rumah si Pitung terdapat sebuah Masjid Al Alam dan termasuk situs sejarah juga, dahulu ada seribu para santri yang melewati jembatan ini dan akhirnya rubuh. Oleh sebab itu, dibangun jembatan yang lebih permanent sehingga bisa dilalui orang banyak bahkan kendaraan kecil. Saat menuju ke lokasi masjid , kami melewati sebuah rawa yang dipinggirnya penuh sampah. Di kejauhan tempat bus kami parkir, terdapat bangunan Rumah susun.  Kemudian melewati gang rumah penduduk dan ditemukan Masjid Al Alam.

Masjid Al Alam mempunyai bangunan yang unik dan terbuka. Sekilas seperti Masjid Agung di kota Solo dekat pasar klewer.  Bangunan utama terbuka, seperti Masjid Agung di kota Solo. Dan ada bagian lain dari bangunan masjid yang tingginya sekitar 1,5 mtr , yang dipakai untuk shalat ataupun azan. Kayu – kayu yang kuat dan kokoh sebagai tiang penyangga bangunan masih dapat di lihat dan tidak rapuh dimakan usia.
Di bagian halaman Masjid Al Alam, yang juga merupakan tempat pesinggahan Si Pitung, terdapat sumur tua yang masih mengeluarkan mata air. Menurut pengujung mata air yang ada di dalam sumur kadang-kadang bisa berubah rasanya. Dan di Masjid yang berada di dekat laut ini, banyak juga dikunjungi para peziarah dengan berbagai permohonan doa.

Satu kompleks dengan  Masjid Al Alam, terdapat cagar budaya yang lain yakni Rumah Si Pitung. Ternyata sudah banyak mengalami perubahan dan penambahan dua buah bangunan yang serupa. Dan halaman yang dibuat cantik sehingga siapapun dapat berlama dikompleks Rumah Si Pitung. Bahkan pada saat kami datang, ada sebuah acara Reuni sedang diselenggarakan.

Setelah puas makan siang di kompleks Rumah Si Pitung, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Tugu, Cilincing. Disana kami berkunjung ke sebuah gereja yang dibangun Kampung Tugu,Gereja Portugis atau lebih dikenal dengan nama Gereja Tugu. Kami menunggu lumayan lama karena menunggu selesainya ibadat pemakaman dari jemaat setempat yang meninggal.  Sambil menunggu ibadat selesai, ada seorang warga jemaat bernama Bp. Robby , menemani kami dengan cerita-cerita seputar Cilincing dan Gereja Tugu.  


Oiaa nama kebantenan yang terdapat di daerah Tugu ini, dahulu merupakan tempat tinggal atau kelompok
pemukiman dari orang – orang banten yang akhirnya tempaat tersebut dikenal dengan nama Kebantenan.

Untuk jalan-jalan saya lainnya di Marunda, bisa di baca di Marunda , Mencari Rumah Si Pitung dan Melaju Ke Kampung Tugu 

Salam dari penjelajah kota tua,
Veronica Setiawati
Jkt, 31 Agustus 2014

Kamis, 24 Maret 2011

JELAJAH KOTA TOEA: PECINAN-GLODOK

Dalam rangka menyambut Cap Go Meh, kembali saya menyusuri kota toea Pecinan bersama teman-teman dari Komunitas Jelajah Budaya. Cap Go Meh jatuhnya 15 hari setelah perayaan IMLEK pada tradisi Tionghoa. Beberapa tradisi kuliner dan mitos yang ada dari perayaan IMLEK hingga Cap Go Meh , banyak saya dengarkan ketika mengikuti perjalanan menyusuri kawasan pecinan dengan berjalan kaki.

IMLEK adalah perayaan menyambut datangnya musim semi dengan tumbuhnya pohon MenHwa yang ditandai berkembangnya bunga-bunga dari pohon tersebut yang berwarna merah muda. Kemudian adanya jeruk yang dipercaya mendatangkan rejeki dan kemakmuran, ikan bandeng yang besar serta kue keranjang. Sebuah kepercayaan dikalangan warga Tionghoa yang merayakan IMLEK , jika dimalam tahun baru tersebut datang hujan maka akan mendatangkan rejeki serta kemakmuran yang berlimpah.

Bentuk rumah-rumah warga Tionghoa yang masih ada serta bisa dilihat di kawasan Pecinan pun tergolong unik. Mereka menutup rapat-rapat dan membuat teralis besi pada rumahnya dimaksudkan agar rejeki itu tidak kemana-mana atau tidak sampai keluar rumah. Selain itu jika diperhatikan, disetiap rumah warga , terdapat satu tempat doa lengkap dengan dupa dan sesajinya yang dibuat menempel pada dinding di dalam rumah ataupun dihalaman rumah. Tujuannya dibangun, sebagai tempat penghormatan kepada para leluhur ataupun para dewa sesuai keyakinan pemilik rumah tersebut.

Ada lagi yang menarik jika diperhatikan, yakni disetiap pintu masuk rumah terdapat benda-benda untuk menolak bala atau sesuatu yang mendatangkan sial masuk ke dalam rumah. Bentuknya macam-macam , ada yang bergambar sebuah mahluk yang seram bertaring ataupun sebuah kaca segilima dan bertulisan huruf china. Nah, bila ada sebuah rumah terletak posisi tusuk sate , seperti yang ada pada salah satu rumah warga Tionghoa ketika saya melihatnya , diatap rumah tersebut dipasangkan sebuah kendi . Dimana mulut kendi tersebut menghadap jalan didepan rumah. Tujuannya seperti halnya benda-benda yang dipasangkan pada pintu rumah , yakni untuk menghindari hal-hal yang tidak baik dan mungkin juga akan berpengaruh kepada rejeki dari sang penghuni rumah.

Pecinan juga indentik dengan rumah ibadahnya dimana mereka mengucapkan syukur kepada Tuhan. Di sebuah Klenteng atau Wihara dari Yayasan Bhudi Dharma , saya melihat beberapa lampion yang tergantung tetapi berjuntai kertas yang sebuah nama dari masing-masing lampion. “ Kertas itu bukan berisi nama-nama orang yang sudah tiada. Melainkan nama-nama dari mereka yang memberikan lampion ke tempat ini.” Jawab seorang bapak yang saya mintai keterangannya. “ Lampion ini sebagai tanda penerangan. Biasanya dipasang untuk dua hal, pertama untuk ulang tahun dan perayaan IMLEK.”

Selain wihara Budhi Dharma ada juga terdapat wihara Ariya Marga atau Lamceng Tee Bio . Letaknya disebuah gang kecil dan banyak terdapat tempat makan warteg di pintu masuk gang. Ada dua buah relief yang terdapat di pintu masuk wihara Tee Bio. Pertama sebuah relief seorang raja yang mengendarai kuda. Dimana replika dari kuda tersebut ada di dalam wihara. Dan relief yang kedua adalah gambara dari cerita tiga orang raja yang merupakan kakak beradik yang sedang bersengketa tetapi akhirnya dapat didamaikan oleh sang kakak. Mereka memperebutkan kedudukan dari sebuah pohon , dimana yang menjadi tempat terhormat bukanlah pada pucuk pohon tersebut melain pada akar dari pohonnya. Kurang lebih begitulah ceritanya.

Perjalanan selanjutnya adalah mengunjungi sebuah klenteng yang cukup tua yakni Klenteng Tang Seng Ong. Sewaktu saya mengikuti kegiatan yang sama sekitar tahun 2009, tempat ini masih dalam renovasi tetapi saat dikunjungi kembali menjadi sebuah klenteng yang sangat bagus. Bagian depan terdapat ruangan untuk berdoa di bagian belakang terdapat sebuah kolam ikan dan replika bunga teratai. Patung yang dipajang diatas sebuah altar doa, dekat kolam ini adalah tiga tokoh penting yakni Sang Budha yang diapit oleh Dewi Kuam In dan Biksu Tong dalam cerita Kera sakti.

Relief tiga lelaki yang ada di depan kolam pun mempunyai arti umur panjang symbol dari lelaki tua berjanggut putih, lelaki yang ditengah menjadi symbol sandang pangan dan lelaki yang menggendong bayi adalah mempunyai anak dan cucu. Tak kalah menariknya sebuah relief dari atap klenteng yang berupa sepasang naga. Naga menurut kepercayaan mereka adalah seekor hewan yang sangat sakti dan pelindung.

Sebelum menuju Klenteng Tang Seng Ong, terdapat sebuah sekolah, di lihat dari depan pintu gerbangnya masih merupakan bangunan lama. Di sekolah ini dahulu digunakan sebagai sebuah organisasi modern di Batavia bernama Tiong Hoa Hwee Koan ( Perkumpulan Tiongoa ) yang merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap kebijakan pemerintah Belanda yang tidak memberikan pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa. Akibat pesatnya perkembangan dari sekolah ini maka pemerintah kolonial Belanda menjadikan bangunan sekolah ini sebagai sekolah berbahasa Belanda ( HCS ). Namun setelah pemerintahan Orde Baru bangunan diambil alih dan dirubah namanya menjadi SMU 19.

Selain sekolah juga ada sebuah rumah yang sudah menjadi cagar budaya karena fisik bangunannya yang sudah lama. Atap bangunannya menyerupai ekor walet yang menandakan status sosial yang cukup berada di Batavia bagi kaum Tionghoa sedangkan bagi kebanyakan atap rumah warga Tionghoa berbentuk pelana kuda. Walaupun mungkin di negeri asalnya tidak ada perbedaan bentuk bangunan untuk mereka yang berbeda status sosialnya.

Kawasan pecinan Glodok yang terkenal adalah Petak Sembilan. Dari sebuah kawasan yang dahulu merupakan kawasan perdagangan dengan sembilan petak dikenalah dengan nama Petak sembilan. Klenteng yang terkenal dan cukup tua adalah Jin De Yuan dan Toasebio bahkan sampai sekarang banyak dikunjungi untuk berdoa ataupun sebagai tempat wisata. Ada juga sebuah gereja bergaya Tionghoa bernama “Gereja St. Maria de Fatima”. Pada tahun 1949 China jatuh ke tangan komunis sehingga ditinggalkannya tempat dataran China, banyak dari orang-orang China sendiri yang pergi dari negaranya termasuk juga para Jesuit yang ada disana kemudian masuk ke Batavia.

Dari sebuah buku mengenai sejarah 50 tahun Gereja St. Maria De Fatima , di sebut pada tahun 1953 dibelilah sebidang tanah di daerah pecinan dengan seluas satu hektar yang meliputi kompleks Gereja hingga pagar tinggi di sisi belakang dan kompleks sekolah Ricci I sekarang ini, tanah tersebut dibeli dengan harga Rp. 3.000.000,00 dari seorang kapitan (sebutan untuk seorang Lurah keturunan Tionghoa di Zaman penjajahan Belanda) bermarga Tjioe. Ia adalah seorang bangsawan Cina yang kaya raya. Pembayaran tanah tersebut dibayar dengan cara mengangsur.

Barulah pada tahun 1954 ketika Pater Matthias Leitenbauer SJ tiba di Jakarta, tanah dan bangunan di atasnya resmi menjadi milik gereja. Nama St de Fatima diambil dari sebuah cerita tentang penampakan Bunda Maria kepada tiga anak gembala seperti yang tergambar dalam relief gua maria di samping gereja.

Di depan bangungan utama tersebut terdapat dua buah patung singa, yang mana patung singa itu merupakan lambang kemegahan bangsawan Cina. Konon di halamannya yang luas terdapat pula pohon sawo kecik dan pendopo joglo berlantai tinggi dan tanah tersebut di kelilingi pagar bertembok tinggi.

Perjalanan diakhiri di Museum Mandiri dimana awal perjalanan dimulai dan juga sebagai tempat berkumpulnya para peserta Jelajah Kota Toea. Museum Mandiri sendiri merupakan bangunan tua dan bersejarah. Dahulu bernama NHM ( kantor dagang maskapai ) milik Pemerintahan kolonial Belanda. NHM ini didirikan pada tahun 1929 dan diresmikan pada tanggal 14 Januari 1933 oleh Presiden NHM. Cirinya ada terdapat lukisan kaca patri. Saya dan peserta diajak berkeliling mengenal Museum Mandiri yang banyak terdapat koleksi dan diorama dari kejayaan tempo dulu dimana tempat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan asset berharga para warga Belanda di Batavia seperti yang terdapat di sebuah ruangan safe deposit. Loker, pintu baja yang sangat tebal , emas , juga sel-sel jeruji seperti dalam penjara menggambarkan suasana saat para nasabah dan petugas di bagian ini menyimpan dengan baik asset yang dipercayakan.

Hiburan diawal perjalanan yang menyenangkan ketika pertunjukan barongsai , sebuah tradisi kesenian Tionghoa di mulai. Musik khas yang dipukul dan dentuman lempengan piringan menambah suasana semakin meriah. Beberapa orang memasukan angpao ke dalam mulut barongsai tersebut. Sedangkan penutup acara , dijelaskan situasi dan tempat-tempat dari berbagai kota tempo dulu dari sebuah film dokumenter.

Menyenangkan bisa ikut kembali di kegiatan keliling menyusuri sejarah Kota Toea di Jakarta. Walaupun acara ini merupakan kedua kalinya pada event yang sama tetapi ada saja hal yang menarik yang baru dan mungkin belum ada pada perjalanan saya sebelumnya. Sehingga hal tersebut dapat menjadi suatu informasi yang menarik dan menambah wawasan yang baru bagi saya pribadi. Terima kasih Komunitas Jelajah Budaya .. semoga setiap orang yang ikut dalam event yang diadakannya membuat mereka termasuk saya pribadi semakin peduli akan budaya serta sejarah bangsa Indonesia, bangsanya sendiri.

Jakarta, 13 Februari 2011

Veronica Setiawati
http://veronicasetiawati.blogspot.com